JATIMPEDIA, Jakarta – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi sepanjang 2026 mulai mengubah peta penjualan otomotif nasional. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa pertumbuhan penjualan kendaraan penumpang sebesar 10 persen pada tahun ini lebih banyak didorong oleh produk-produk yang menawarkan efisiensi bahan bakar.
"Kita melihat bahwa sebenarnya dari kenaikan kendaraan penumpang sebesar 10 persen dibandingkan tahun lalu, itu lebih didorong oleh pembelian produk-produk kendaraan yang irit bahan bakar. Karena harga bahan bakar sudah tinggi, sehingga penjualan mobil konvensional juga cukup turun signifikan," ujar Putu saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (21/10/2026) .
Menurut Putu, penurunan tidak hanya terjadi pada mobil berbahan bakar bensin secara umum, tetapi juga pada segmen Low Cost Green Car (LCGC). Padahal, program mobil murah ramah lingkungan yang diluncurkan pemerintah pada 2012–2014 silam sempat mendominasi pasar dengan pangsa mencapai 24 persen dari total penjualan mobil nasional .
Kehadiran EV Ubah Lanskap Pasar
Putu menilai bahwa perubahan teknologi kendaraan menjadi salah satu faktor utama di balik pergeseran ini. Kehadiran kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) memberikan alternatif bagi konsumen yang sebelumnya hanya mengandalkan mobil bermesin pembakaran internal (ICE).
"Tapi sekarang karena sudah ada teknologi lain yaitu Electric Vehicle (EV), tren listrik memang naik. Itulah salah satu penyebab turunnya LCGC dan mobil konvensional lainnya. Jadi, sebenarnya ini masa peralihan," jelas Putu .
Data Gaikindo memperlihatkan kontras yang tajam. Sepanjang Januari–September 2026, wholesales LCGC tercatat 83.997 unit, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu . Sementara itu, distribusi mobil listrik ke dealer justru melesat 113,7 persen menjadi 117.218 unit pada periode yang sama .
Gaikindo Usul LCGC Berteknologi Hybrid
Di tengah tekanan tersebut, Putu menegaskan bahwa segmen mobil murah tetap penting karena menjadi pintu masuk bagi konsumen yang membeli mobil pertama. Namun, ia menilai konsep LCGC perlu berevolusi mengikuti perkembangan teknologi.
"Mobil murah itu tidak harus ICE, bisa saja bentuknya Hybrid atau Plug-in Hybrid, yang penting affordability-nya tercapai dan harganya murah," pungkasnya .
Dengan demikian, masa depan LCGC di Indonesia tidak hanya bergantung pada pemulihan daya beli, tetapi juga pada kemampuan pabrikan menghadirkan kendaraan terjangkau yang tetap relevan di era elektrifikasi.
Editor : Taufiq