Pelindo Jasa Maritim Jajaki Kapal Tunda Listrik untuk Tekan Biaya Operasional

JATIMPEDIA, Jakarta - PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) bersama PT Asian Bulk Logistics (ABL) menjajaki pengembangan kapal tunda listrik atau electric tug (e-tug) untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi emisi karbon di sektor kepelabuhanan. Inisiatif tersebut dibahas dalam lokakarya bersama yang berlangsung di Hotel Morrissey, Jakarta, belum lama ini.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut kemitraan strategis kedua perusahaan untuk mengkaji kesiapan teknologi, kebutuhan operasional, kelayakan investasi, hingga peluang komersialisasi kapal tunda berbasis listrik.

Direktur Komersial PT Pelindo Jasa Maritim, Suhendra Ratuprawiranegara, mengatakan pengembangan e-tug menjadi salah satu langkah strategis perusahaan dalam meningkatkan daya saing layanan maritim melalui penerapan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Baca juga:DPN Kunjungi PJM, Bahas Penguatan Sektor Kemaritiman
“Pengembangan e-tug tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keandalan layanan penundaan kapal. Karena itu, diperlukan kajian teknis, operasional, dan komersial yang komprehensif agar implementasinya memberikan manfaat nyata bagi perusahaan maupun pengguna jasa,” ujar Suhendra pada keterangannya, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurutnya, rencana tersebut sejalan dengan pengembangan konsep pelabuhan hijau (green port) dan pelayaran hijau (green shipping). Inisiatif ini juga mendukung upaya sektor maritim dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sejalan dengan strategi Organisasi Maritim Internasional (IMO) menuju emisi nol bersih dari pelayaran internasional sekitar 2050.

Sebagai tahap awal, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya diproyeksikan menjadi lokasi percontohan penerapan kapal tunda listrik.

Namun, penetapan kedua pelabuhan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Sejumlah aspek yang akan dipertimbangkan meliputi karakteristik pelayanan kapal, intensitas kegiatan penundaan, kebutuhan daya listrik, ketersediaan fasilitas pengisian baterai, serta kesiapan operasional.

Dari sisi ekonomi, penggunaan e-tug diproyeksikan berpotensi menekan biaya operasional sekitar 20 hingga 40 persen dibandingkan kapal tunda konvensional. Sementara itu, penggunaan tenaga listrik berpotensi menghilangkan emisi langsung dari pengoperasian kapal, meskipun pengurangan emisi secara keseluruhan tetap bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan.

Pengembangan teknologi tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong industri hijau dan menekan emisi karbon melalui pemanfaatan teknologi rendah emisi di sektor maritim dan kepelabuhanan.

Suhendra menegaskan, potensi efisiensi harus diimbangi dengan perencanaan investasi yang matang, kesiapan infrastruktur, dan keandalan teknologi. Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas agar penerapan kapal tunda listrik tidak mengganggu kelancaran pelayanan kapal.

“Prinsip utama kami adalah memastikan inovasi teknologi mampu memberikan nilai tambah bagi operasional dan pelanggan. Efisiensi biaya, keandalan layanan, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.

Hasil kajian bersama tersebut nantinya menjadi dasar bagi PJM dan ABL untuk menentukan model bisnis, skema investasi, serta tahapan penerapan e-tug. Kedua perusahaan juga akan mengkaji peluang pengembangan layanan tersebut di wilayah operasional yang sudah ada maupun pasar baru, baik di dalam maupun luar negeri.

Melalui kolaborasi ini, Pelindo Jasa Maritim berupaya memperkuat pengembangan layanan maritim yang inovatif dan kompetitif sekaligus mendukung transformasi industri kepelabuhanan nasional menuju operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Editor : Rizky

Berita Terbaru