JATIMPEDIA, Solo - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) terus mendorong penguatan kapasitas santri dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai peluang pengembangan ekonomi kreatif. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) yang diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah.
Sebanyak 200 santri dari 22 pesantren di wilayah Solo Raya mengikuti program pelatihan tersebut. Berkolaborasi dengan Shopee Indonesia, kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan berbagai karya kreatif. Kekuatan budaya dan sejarah lokal yang melekat pada lingkungan pesantren dinilai dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan produk ekonomi kreatif.
“Kreativitas para santri di pesantren sebenarnya tumbuh luar biasa. Pesantren memiliki akar budaya yang kuat berkaitan dengan sejarah daerahnya,” ujar Teuku Riefky, dikutip dari laman Kementerian Ekonomi Kreatif, Senin, 2 November 2026.
Menurutnya, kekayaan sejarah, keberadaan tokoh lokal, serta tradisi yang berkembang di lingkungan pesantren dapat diolah menjadi peluang usaha di berbagai subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari penerbitan, film, animasi, fesyen, kuliner, hingga produksi merchandise.
Kemenekraf juga ingin mendorong santri mengambil peran lebih luas dalam ekosistem digital, tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai kreator dan pelaku pemasaran produk kreatif.
“Kami ingin kemampuan santri sebagai kreator konten dan afiliator membantu mengakselerasi produk-produk kreatif pesantren. Produk tersebut mencakup fesyen, kuliner, modest fashion, maupun hasil kreativitas lainnya,” kata dia.
Teuku Riefky menambahkan, pembinaan melalui Santri Matic akan dilanjutkan dengan pendampingan setelah pelatihan. Kemenekraf juga berencana mengembangkan komunitas alumni sebagai wadah bagi para peserta untuk terus belajar dan memperluas jejaring.
“Pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan. Kami juga membentuk komunitas alumni Santri Matic yang dapat terus berkembang,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi mengenai pemanfaatan Shopee Marketplace, strategi promosi digital, ShopeeFood, serta Shopee Affiliate Program. Santri juga mengikuti praktik pembuatan konten digital untuk meningkatkan kemampuan memasarkan produk melalui platform daring.
Santri Matic merupakan program turunan dari inisiatif Generasi Melek Teknologi (Gen Matic). Melalui program ini, Kemenekraf berupaya memperluas pembinaan keterampilan digital, khususnya bagi wirausaha yang tumbuh di lingkungan pesantren.
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, turut mendorong santri agar tidak hanya berperan sebagai reseller, tetapi mampu menghasilkan produk kreatif sendiri. Menurutnya, santri memiliki peluang untuk terlibat dalam berbagai tahapan rantai nilai industri kreatif.
“Santri jangan hanya menjadi reseller dari produk-produk ekonomi kreatif. Santri harus menjadi kreator produk ekonomi kreatif,” ucap Respati.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Surakarta memiliki Program Santri Next Level yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah dan kapasitas santri.
Salah satu peserta pelatihan, Risyam, staf pengajar di Ma'had Ali Menara Quran Karanganyar, mengaku memperoleh pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Ia telah menjalani aktivitas sebagai afiliator selama empat bulan dan merasakan manfaatnya sebagai sumber penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama.
Menurut Risyam, materi yang disampaikan dalam pelatihan juga memberikan inspirasi baru, terutama melalui pengalaman para kreator konten dan afiliator.
“Alhamdulillah, selama empat bulan menjadi afiliator, hasilnya cukup untuk menjadi penghasilan tambahan di luar gaji. Pelatihan hari ini juga keren karena banyak insight yang didapatkan,” ujar Risyam.
Melalui program Santri Matic, Kemenekraf berharap keterampilan digital para santri semakin berkembang dan dapat diterapkan untuk menciptakan peluang usaha. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya produk kreatif berbasis pesantren sekaligus memperluas jangkauan pemasarannya melalui ekosistem digital.
Editor : Rizky