JATIMPEDIA, Surabaya - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS. Capaian tersebut melanjutkan tren surplus pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,55 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menilai surplus perdagangan tersebut menjadi perkembangan positif bagi ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Menurutnya, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas eksternal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Denny, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus September 2026 ditopang oleh kinerja positif perdagangan nonmigas serta berkurangnya defisit pada sektor migas.
Neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar 5,67 miliar dolar AS. Capaian ini didukung peningkatan ekspor nonmigas menjadi 26,64 miliar dolar AS, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 25,62 miliar dolar AS.
Peningkatan ekspor terutama berasal dari komoditas berbasis sumber daya alam, seperti lemak dan minyak hewani maupun nabati, logam mulia, serta perhiasan dan permata. Selain itu, produk manufaktur seperti mesin dan perlengkapan elektrik beserta komponennya serta besi dan baja turut memberikan kontribusi.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama yang menopang ekspor nonmigas Indonesia.
Sementara itu, defisit perdagangan migas mengalami penurunan menjadi 2,32 miliar dolar AS pada September 2026, dari sebelumnya 2,54 miliar dolar AS. Perbaikan tersebut terjadi karena penurunan impor migas lebih besar dibandingkan penurunan ekspornya.
Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026 membukukan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.
BI memandang keberlanjutan surplus perdagangan ini sebagai salah satu faktor pendukung ketahanan eksternal Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Sinergi kebijakan dengan pemerintah diharapkan terus menjaga kinerja perdagangan dan stabilitas perekonomian nasional.
Editor : Rizky