JATIMPEDIA, SURABAYA - Globalisasi telah mengubah wajah komunikasi secara fundamental. Arus informasi yang deras, kemajuan teknologi digital, dan keterhubungan antarbudaya yang semakin intensif membawa dampak besar bagi Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 270 juta penduduk dan ratusan bahasa daerah. Dalam konteks inilah, sistem komunikasi Indonesia diuji: apakah ia mampu menjadi jembatan kemajuan, atau justru terseret menjadi medan ketimpangan baru?
Pertanyaan ini kerap muncul dalam diskusi di ruang-ruang akademis. Sebagaimana disampaikan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA, dosen pengampu mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia, dalam salah satu perkuliahan, "Komunikasi bukan hanya soal teknologi, ia adalah soal siapa yang bersuara, dan siapa yang didengar." Pernyataan itu menginspirasi Komang, salah satu mahasiswa di kelasnya, untuk menggali lebih jauh dinamika sistem komunikasi Indonesia di era global ini.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sistem komunikasi Indonesia adalah kesenjangan infrastruktur digital. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di daerah perkotaan telah mencapai sekitar 82%, sementara daerah pedesaan masih jauh tertinggal. Banyak wilayah di luar Pulau Jawa masih mengalami keterbatasan akses internet akibat minimnya jaringan telekomunikasi, mulai dari kurangnya menara BTS hingga belum tersedianya infrastruktur kabel serat optik.
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau memperumit upaya pemerataan ini. Biaya pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil sangat tinggi dan sering kali tidak dianggap menguntungkan secara komersial bagi penyedia layanan. Akibatnya, masyarakat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) masih sulit menikmati manfaat komunikasi digital yang telah menjadi kebutuhan pokok di era globalisasi ini.
Tantangan kedua adalah rendahnya literasi digital. Indeks Masyarakat Digital Indonesia pada tahun 2023 mencatat skor rata-rata keterampilan digital masyarakat hanya di angka 43,18, angka yang mencerminkan betapa besar pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan. Ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan memadai untuk menggunakan teknologi secara bijak dan kritis, mereka menjadi rentan terhadap disinformasi, hoaks, dan manipulasi informasi yang kian marak di era digital.
Tantangan ketiga berkaitan dengan identitas budaya dan bahasa. Globalisasi membawa arus komunikasi yang didominasi oleh budaya dan bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Di satu sisi, hal ini membuka peluang kolaborasi internasional, namun di sisi lain berpotensi mengikis nilai-nilai lokal, bahasa daerah, dan identitas budaya bangsa. Seperti yang sering Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA tegaskan kepada mahasiswanya, termasuk Komang, "Globalisasi bukan berarti kita harus kehilangan diri sendiri. Justru di sinilah kita ditantang untuk hadir dengan identitas yang kuat."
Tidak kalah krusial adalah tantangan regulasi. Cepatnya perkembangan platform media sosial dan ekosistem digital global sering kali melampaui kecepatan regulasi nasional. Isu seperti perlindungan data pribadi, moderasi konten, dan kedaulatan digital menjadi perbincangan serius di kalangan akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil.
Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat harapan yang nyata. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen serius dalam mempercepat pembangunan infrastruktur digital di seluruh wilayah, termasuk melalui perluasan jaringan 4G dan pengembangan akses 5G di kota-kota besar. Program digitalisasi desa dan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) di pelosok negeri menjadi langkah konkret menuju pemerataan komunikasi.
Dalam hal literasi digital, berbagai inisiatif dari pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat mulai menunjukkan hasil. Pelatihan literasi digital bagi guru, pelajar, dan masyarakat umum terus diperluas. Generasi muda Indonesia, seperti Komang yang aktif mengeksplorasi isu-isu komunikasi dalam studi akademisnya, menjadi agen perubahan yang penting dalam mentransformasi ekosistem komunikasi nasional.
Platform teknologi juga membuka peluang luar biasa bagi komunikasi antarbudaya yang lebih kaya. Media sosial, aplikasi terjemahan, dan platform kolaborasi digital memungkinkan masyarakat Indonesia untuk terhubung dengan dunia sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal ke kancah global. Konten kreatif berbahasa Indonesia dan berbasis budaya lokal kini semakin mendapat perhatian internasional, membuktikan bahwa identitas lokal bisa bersanding, bahkan bersinar di panggung global.
Harapan juga datang dari ekosistem startup dan industri teknologi Indonesia yang terus berkembang pesat. Dengan jumlah pengguna internet lebih dari 221 juta jiwa pada tahun 2024, Indonesia menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Potensi ini, bila dikelola dengan kebijakan yang tepat dan inklusif, dapat menjadi fondasi sistem komunikasi nasional yang kuat, setara, dan berdaya saing global.
Sistem komunikasi Indonesia di era globalisasi berada di persimpangan yang menentukan. Tantangan kesenjangan infrastruktur, rendahnya literasi digital, ancaman terhadap identitas budaya, serta kompleksitas regulasi digital adalah persoalan nyata yang membutuhkan solusi sistematis dan kolaboratif. Namun di sisi lain, potensi besar Indonesia dari sisi demografi, kekayaan budaya, hingga pertumbuhan ekosistem digital memberikan optimisme yang beralasan.
Seperti yang selalu ditanamkan oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA kepada para mahasiswanya, perubahan dimulai dari pemahaman yang mendalam dan keberanian untuk bertindak. Bagi Komang dan generasi mudanya, memahami sistem komunikasi bukan sekadar tugas akademis, ia adalah bekal untuk berkontribusi pada masa depan Indonesia yang lebih terhubung, inklusif, dan beridentitas kuat di tengah arus globalisasi yang terus mengalir deras.
Editor : Taufiq