BPS Catat Deflasi 0,14 Persen

Juli 2026 Alami Inflasi Tahunan Melandai ke 2,88 Persen

JATIMPEDIA, Jakarta -  Laju inflasi Indonesia berbalik arah pada Juli 2026. Setelah mencatat inflasi 0,44% pada Juni, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi 0,14% secara bulanan (month to month/mtm), terutama akibat melimpahnya pasokan pangan yang menekan harga berbagai komoditas hortikultura.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, hingga berbagai komoditas sayuran dan buah menjadi faktor utama yang menahan inflasi pada awal semester II tahun ini.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, meski secara bulanan terjadi deflasi, tren harga secara tahunan masih menunjukkan kenaikan.

"Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Juli tercatat 2,88%, melambat dibandingkan 3,34% pada Juni. Sementara inflasi tahun kalender Januari-Juli 2026 mencapai 1,65%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan penurunan harga 0,89�n andil deflasi 0,26%.

Bawang merah menjadi kontributor utama setelah produksi meningkat di sejumlah sentra seperti Kabupaten Malang, Brebes, dan Kendal. Pasokan cabai merah juga bertambah dari wilayah Kerinci, Kulon Progo, dan Simalungun, sedangkan produksi cabai rawit meningkat di Sampang, Lombok Timur, dan Bandung. Melimpahnya produksi tersebut membuat harga komoditas hortikultura turun cukup tajam di tingkat konsumen.

Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi 0,89�ngan andil 0,06%, terutama akibat koreksi harga emas perhiasan.

BPS juga mencatat komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi 1,68�ngan andil negatif sebesar 0,28%, mempertegas bahwa pelemahan inflasi Juli terutama berasal dari penurunan harga pangan.

Di tengah turunnya harga pangan, tekanan inflasi inti masih bertahan. Inflasi inti tercatat sebesar 0,14% secara bulanan dengan andil 0,09%.

Pendorong utamanya berasal dari kenaikan biaya pendidikan, khususnya sekolah dasar dan taman kanak-kanak, disertai kenaikan harga sepeda motor, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya bimbingan belajar.

Kelompok pendidikan mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,55�ngan andil 0,03%.

Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 0,52�n menyumbang 0,06% terhadap inflasi bulanan. Tekanan harga terutama berasal dari bensin. Meski Pertamina mempertahankan harga Pertamax pada awal Juli dan memangkas harga beberapa BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di banyak wilayah, dampak penyesuaian harga BBM sebelumnya masih tercermin dalam pergerakan inflasi transportasi.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 0,34%.

Pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices), inflasi tercatat 0,25�ngan andil 0,05%, juga didorong oleh kenaikan harga bensin.

Secara spasial, tekanan harga melemah di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebanyak 27 provinsi mengalami deflasi, sedangkan hanya 11 provinsi yang masih mencatat inflasi bulanan.

Inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 0,38%, diikuti Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,35%.

Sebaliknya, Papua Pegunungan mencatat deflasi terdalam sebesar 1,37%, disusul Papua 1,31�n Sulawesi Utara 1,05%.

Seluruh provinsi di Pulau Jawa juga mengalami deflasi. Penurunan harga terdalam terjadi di DI Yogyakarta sebesar 0,31%, diikuti Jawa Timur 0,26%, Banten 0,22%, DKI Jakarta 0,15%, Jawa Tengah 0,13%, dan Jawa Barat 0,05%.

Meski terjadi deflasi bulanan, tekanan harga secara tahunan masih relatif kuat. Seluruh kelompok pengeluaran mencatat inflasi dibandingkan Juli tahun lalu.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan inflasi 2,97�n andil 0,87%. Komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga antara lain ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Kelompok transportasi mencatat inflasi tahunan 5,12�ngan kontribusi 0,62%, dipengaruhi kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, dan mobil.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya masih menjadi kelompok dengan inflasi tertinggi, yakni mencapai 9,04% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh tingginya harga emas perhiasan sepanjang setahun terakhir.

Menurut komponen, inflasi inti tahunan tercatat sebesar 3,82%, inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 2,32%, sedangkan inflasi komponen harga bergejolak sebesar 2,52%.

Secara regional, seluruh provinsi masih mengalami inflasi tahunan. Papua Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,47%, sedangkan Papua Selatan menjadi yang terendah dengan inflasi 1,46%.

Berita Terbaru