JATIMPEDIA, Surabaya - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan wisatawan nusantara (Wisnus) mencapai 107,44 juta perjalanan pada Juli 2026, sekaligus menjadi capaian bulanan tertinggi sejak 2019 atau sebelum pandemi Covid-19.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan jumlah perjalanan Wisnus pada Juli 2026 meningkat 0,23% secara bulanan (month-to-month/MoM). Jika dibandingkan dengan Juli 2025, jumlah tersebut tumbuh lebih kuat, yakni 7,23% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Kinerja tersebut memperkuat tren pemulihan dan ekspansi perjalanan domestik sepanjang tahun. Secara kumulatif, jumlah perjalanan Wisnus pada Januari-Juli 2026 mencapai 737,85 juta perjalanan, naik 3,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Capaian kunjungan Wisnus Januari sampai Juli tahun 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2019 atau sebelum terjadinya kondisi pandemi Covid," kata Ateng, Selasa (1/9/2026).
Penguatan mobilitas domestik tersebut terjadi ketika perjalanan wisatawan nasional (Wisnas) ke luar negeri justru masih berada di bawah tekanan secara tahunan.
BPS mencatat jumlah perjalanan Wisnas pada Juli 2026 mencapai 802.670 perjalanan. Angka ini memang meningkat 4,68% dibandingkan Juni 2026, tetapi masih turun 7,73% secara tahunan.
Secara kumulatif, perjalanan Wisnas sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 5,26 juta perjalanan, turun 3,25% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Ateng mengatakan peningkatan perjalanan Wisnas secara bulanan pada Juli terutama dipengaruhi oleh momentum libur sekolah semester genap dan perjalanan umrah. Salah satu sumber kenaikan terbesar berasal dari perjalanan melalui Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau.
"Meningkatnya wisatawan nasional secara bulanan, ini terutama disebabkan oleh libur sekolah semester genap, ada perjalanan umrah, terutama dari Bandara Sultan Syarif Kasim II di Riau, ini yang paling banyak," ujarnya.
Selain faktor musiman tersebut, perjalanan ke luar negeri pada Juli juga terdorong oleh penyelenggaraan berbagai event di sejumlah negara Asia Tenggara dan China.
Dengan demikian, data BPS menunjukkan pola yang kontras: mobilitas wisatawan domestik terus menguat dan mencetak rekor pascapandemi, sementara perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri masih mengalami kontraksi secara tahunan.
Tren tersebut menjadi sinyal penting bagi industri pariwisata dalam negeri karena tingginya mobilitas Wisnus berpotensi menopang aktivitas ekonomi di berbagai daerah, mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner hingga perdagangan dan ekonomi kreatif.
Editor : Rizky