JATIMPEDIA, Jakarta - Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu pasar sekaligus pusat pengembangan electric Vertical Take-off and Landing (eVTOL) atau helikopter listrik di kawasan Asia. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika pembangunan ekosistem industri berjalan seiring dengan kesiapan regulasi, infrastruktur, dan standar keselamatan penerbangan.
Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan menjadikan eVTOL memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar layanan taksi udara di kawasan perkotaan.
Menurut dia, teknologi ini berpotensi mempercepat konektivitas menuju kawasan industri, destinasi pariwisata, wilayah terpencil, hingga pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi.
"Indonesia mempunyai peluang menjadi salah satu negara paling maju dalam implementasi eVTOL. Pemanfaatannya tidak hanya untuk mobilitas perkotaan, tetapi juga mendukung konektivitas antarpulau jarak pendek, wilayah terpencil, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru," ujar Denon dalam keterangannya, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Denon menilai kebutuhan akan transportasi udara yang lebih cepat akan terus meningkat seiring tersebarnya kawasan industri, sentra produksi, destinasi wisata, serta wilayah sumber daya alam di berbagai pulau. Dalam konteks tersebut, eVTOL dapat berperan sebagai moda penghubung menuju bandara, layanan antarpulau jarak pendek, transportasi darurat, hingga akses menuju kawasan ekonomi yang belum terlayani secara optimal.
"Ukuran keberhasilannya bukan sekadar banyaknya armada yang beroperasi, tetapi apakah teknologi ini mampu memangkas waktu tempuh, membuka akses baru, dan menciptakan nilai ekonomi," katanya.
Meski prospeknya menjanjikan, Denon mengingatkan komersialisasi eVTOL tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Kesiapan regulasi, sertifikasi, operator, sistem pemeliharaan, hingga infrastruktur pendukung harus menjadi prasyarat utama sebelum teknologi tersebut dioperasikan secara luas.
"Teknologinya boleh berkembang, tetapi prinsip penerbangan tetap sama. Keselamatan harus menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara mengenai skala operasi dan jumlah armada," ujarnya.
Lebih jauh, INACA mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produsen eVTOL global, tetapi juga mengambil peran dalam rantai nilai industri tersebut. Hal itu dinilai dapat membuka peluang investasi baru, memperkuat industri penerbangan nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja berbasis teknologi.
Menurut Denon, pembangunan ekosistem eVTOL harus mencakup model bisnis yang berkelanjutan, skema pembiayaan, pengembangan infrastruktur, serta integrasi dengan bandara, transportasi darat, kawasan bisnis, dan platform digital. Dengan pendekatan tersebut, eVTOL tidak hanya menjadi inovasi transportasi, tetapi juga motor penggerak konektivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor : Arif
URL : https://jatimpedia.id/news-17638-inaca-bidik-industri-helikopter-listrik-tumbuh-di-indonesia