JATIMPEDIA, Jember – Bagi sebagian orang, sampah plastik hanyalah limbah yang harus segera dibuang. Namun, bagi Muhammad Arif Yulianto (40), warga Dusun Krajan, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sampah plastik justru menjadi peluang untuk mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
Dari sebuah bank sampah yang dikelolanya, pria yang akrab disapa Antok ini mulai mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif, menggunakan teknologi pirolisis. Menariknya, gagasan tersebut tidak berhenti pada produksi solar.
Antok juga menyiapkan skema agar nilai ekonomi dari sampah yang disetorkan warga dapat dikumpulkan menjadi tabungan dan dimanfaatkan untuk membantu membayar pajak kendaraan hingga tagihan listrik.
Gagasan itu lahir dari kegelisahannya melihat sampah plastik yang masih menjadi persoalan lingkungan.
Antok yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Krajan, kemudian mencoba mencari cara agar masyarakat tidak hanya diminta menjaga kebersihan, tetapi juga memperoleh manfaat langsung dari sampah yang mereka kumpulkan.
Antok mulai merintis pengolahan sampah plastik menjadi BBM pada pertengahan 2025. Saat itu, produksi masih dilakukan dalam skala kecil dan lebih banyak digunakan untuk percobaan. Setelah melalui proses pengembangan, pengolahan sampah tersebut mulai ditingkatkan pada 2026.
“Produksi dulu mulai 2025, pertengahan. Cuma kita coba-coba dulu. Setelah itu, tahun 2026 ini kita olah,” kata Antok saat ditemui sejumlah wartawan, Sabtu (18/7/2026).
Seiring waktu, bahan baku yang digunakan sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar. Warga menyetorkan sampah plastik rumah tangga maupun sampah yang dikumpulkan dari lingkungan dan pasar ke bank sampah yang dikelola Antok.
Namun, sampah-sampah tersebut tidak langsung dimasukkan ke dalam mesin. Antok menjelaskan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum plastik diproses menggunakan teknologi pirolisis.
“Bahan datang, kita pilah. Terus kita cacah, kita bersihkan, kemudian kita keringkan secara manual sebentar. Setelah itu baru kita olah,” ujarnya.
Dalam satu kali produksi, bank sampah tersebut mampu mengolah sekitar 4 hingga 5 kuintal sampah plastik. Saat ini, Antok masih memfokuskan produksi pada solar karena proses pengembangannya dinilai lebih memungkinkan untuk dilakukan terlebih dahulu.
“Sementara kita fokus ke solar. Sebenarnya dari plastik bisa menghasilkan bensin dan minyak tanah, tapi kita coba fokus solar dulu,” jelasnya.
Hasil produksi sangat bergantung pada jenis plastik dan kandungan air yang masih tersisa dalam bahan baku. Antok menyebut, dari 100 kilogram sampah plastik, rata-rata dapat menghasilkan sekitar 40 hingga 70 liter bahan bakar.
“Kalau teori memang satu banding satu. Tapi praktiknya tergantung bahan. Dari 100 kilogram plastik biasanya bisa menghasilkan sekitar 40 sampai 70 liter solar,” katanya.
Menurut Antok, kandungan air menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil produksi. Karena itu, proses pemilahan, pembersihan, dan pengeringan menjadi bagian penting sebelum plastik dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis.
Di balik inovasi pengolahan sampah menjadi solar, Antok memiliki gagasan yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ia sedang menyiapkan kerja sama dengan Pemerintah Desa Kencong dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar nilai ekonomi dari sampah yang disetorkan warga dapat dikumpulkan sebagai saldo.
Saldo tersebut nantinya tidak langsung diambil dalam bentuk uang tunai. Antok ingin nilai ekonomi sampah itu dikumpulkan hingga mencapai nominal tertentu dan dapat dialihkan untuk membayar kewajiban warga.
“Kita sedang menyiapkan kerja sama dengan desa dan BUMDes. Jadi masyarakat yang setor sampah, nominalnya kita kumpulkan. Nanti bisa dialihkan untuk pembayaran pajak,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, warga yang rutin menyetorkan sampah plastik dapat mengumpulkan saldo selama beberapa bulan. Ketika nilai tabungan telah mencukupi kebutuhan pembayaran pajak tahunan, saldo tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu membayar pajak kendaraan.
“Pajak kan satu tahun sekali. Jadi kalau beberapa bulan sudah dapat nominal yang sesuai dengan pajak, itu bisa dialihkan untuk pembayaran pajak,” jelas Antok.
Menurutnya, skema tersebut diharapkan dapat membuat warga merasakan manfaat langsung dari kebiasaan memilah dan menyetorkan sampah.
“Jadi pajak itu tidak dibebankan dari pengeluaran pribadi. Pengeluaran dari sampah mereka yang kita kelola,” katanya.
Tidak hanya pajak kendaraan, Antok juga berencana mengembangkan kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN), agar saldo hasil setoran sampah dapat dimanfaatkan untuk membantu pembayaran tagihan listrik maupun token listrik.
“Kalau sudah berjalan, kita ingin kerja sama dengan PLN. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan hasil setor sampah untuk membantu pembayaran listrik,” ujarnya.
**Sampah Plastik Diubah Menjadi Sembako hingga Program Sosial**
Antok juga menyiapkan skema lain bagi masyarakat yang menyetorkan sampah. Jika saldo yang terkumpul telah mencapai nominal tertentu, nilai tersebut dapat ditukarkan dengan kebutuhan pokok.
“Misalnya nominal sudah mencapai Rp100 ribu, kita bisa rupakan untuk sembako. Bisa beras, gula, minyak, atau lainnya sesuai yang diminta masyarakat,” katanya.
Bagi Antok, bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan limbah. Ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai.
“Selama ini sampah plastik menjadi masalah. Kita mencoba mendoktrin masyarakat, jangan membuang sampah. Kumpulkan sampah plastikmu, karena bisa menjadi keuntungan,” ucapnya.
Ia berharap kebiasaan tersebut perlahan membentuk kesadaran baru di tengah masyarakat.
“Kami ingin masyarakat tidak lagi membuang sampah plastik sembarangan. Lebih baik dipilah, dikumpulkan, lalu disetor ke bank sampah karena bisa memberikan manfaat bagi mereka sendiri,” imbuhnya.
Antok menegaskan, keuntungan dari pengolahan sampah tersebut nantinya tidak seluruhnya akan digunakan untuk kepentingan usaha. Ia berencana mengembalikan sebagian manfaat ekonomi itu melalui program sosial bersama pemerintah desa, kecamatan, dan puskesmas.
“Untung itu tidak saya makan sendiri. Nanti kita kembalikan lagi ke masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebut, salah satu rencana yang ingin dikembangkan adalah dukungan terhadap program penanganan stunting dan pemberian makanan tambahan (PMT).
“Kita ingin support kegiatan stunting, PMT, seperti program One Day One Egg, dan kegiatan sosial lainnya bersama
Editor : Rofiq