JATIMPEDIA, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI beserta entitas anak membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik sebesar Rp5,66 triliun pada kuartal I-2026. Realisasi ini tumbuh 5,2% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai Rp5,38 triliun.
Mengulik laporan keuangan bank bersandi saham BBNI ini, pendapatan bunga yang diperoleh sebesar Rp19 triliun pada tiga bulan pertama 2026, tumbuh tinggi 13,7% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, beban bunga juga tumbuh 15,84% (yoy) menjadi Rp7,97 triliun pada kuartal I-2026.
Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBNI tercatat Rp11,03 triliun, tumbuh 12,55% dibandingkan dengan Rp9,8 triliun pada Maret 2025.
Pencapaian ini diraih di tengah ketidakpastian global dan kondisi geopolitik terutama perang di Timur Tengah yang mempengaruhi pergerakan harga minyak, meningkatkan inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Secara domestik, BBNI memandang bauran kebijakan baik moneter maupun fiskal menjadi buffer penting bagi perekonomian nasional.
Dari sisi moneter, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) berada di level yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan stabilitas. Selain itu, BI juga menerbitkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang penting untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha di tengah tekanan global.
Sementara dari aspek kebijakan fiskal, pemerintah memberikan stimulus seperti bantuan sosial, subsidi energi serta dukungan bagi sektor usaha untuk melindungi daya beli masyarakat dan menopang konsumsi domestik sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Selain dari sisi konsumtif, pemerintah juga fokus pada belanja produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional. Industri perbankan tetap berada di posisi yang kuat dalam menjaga motor penggerak ekonomi nasional ke depannya.
Dalam menghadapi dinamika tersebut, BBNI optimis mampu menunjukkan ketahanan fundamental solid yang dibangun selama bertahun-tahun. Hal ini tercermin dari kondisi permodalan dan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang tetap resilien diiringi oleh level pencadangan yang memadai untuk menjaga profil risiko tetap terjaga.
Selain itu, BBNI senantiasa tetap menerapkan langkah antisipatif dan kesigapan untuk memastikan BNI dapat melewati ketidakpastian kondisi global yang masih berlangsung ini.
Direktur Utama BNI (BBNI) Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ungkap Putrama dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026)
Sebagai upaya untuk memperkuat pondasi permodalan, BBNI mengambil langkah proaktif dengan melakukan penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar US$700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026.
Penguatan permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BBNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang.
Editor : Rizky
URL : https://jatimpedia.id/news-16122-kuartal-i-2026-bank-bni-bukukan-laba-rp-566-triliun