Bupati Gresik Fasilitasi Kepulangan Anak PMI

Jejak Pertama di Tanah Ibu: Kepulangan Anak-Anak PMI Gresik

JATIMPEDIA, Gresik - Langkah kecil itu ragu-ragu saat menjejak lantai bandara. Bagi MI (12), SY (8), dan HA (11), Indonesia bukan sekadar negara asal orang tua mereka. Negeri ini adalah cerita—tentang rumah, tentang desa, tentang masa kecil yang tak pernah mereka jalani. Senin (09/02), cerita itu akhirnya menjadi nyata.

Setelah bertahun-tahun hidup dan tumbuh di luar negeri, tiga anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Gresik akhirnya pulang ke tanah kelahiran orang tuanya. Kepulangan mereka difasilitasi Pemerintah Kabupaten Gresik dan didampingi langsung oleh Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, sejak dari negara asal hingga tiba dengan selamat di tanah air.

Tak ada sorak sorai. Yang ada hanya pelukan, air mata, dan wajah-wajah yang mencoba mengenali tempat yang selama ini hanya hadir dalam dongeng orang tua sebelum tidur. Mereka lahir dan besar di luar negeri, tumbuh dalam lingkungan yang asing, dan menjalani masa kanak-kanak tanpa pernah benar-benar mengenal kampung halaman.

Bagi HA (11), warga Desa Siwalan, Kecamatan Panceng, kepulangan ini adalah pertemuan pertama dengan tanah yang selama ini hanya disebut “rumah”. Ibunya, Siti Khotimah (50), tak kuasa menahan air mata saat melihat anaknya akhirnya berdiri di hadapannya.

“Setiap hari saya hanya bisa berdoa agar anak saya bisa pulang,” tuturnya lirih. “Tidak pernah menyangka kepulangannya akan didampingi langsung oleh Pak Bupati.”

MI dan SY, kakak beradik asal Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, juga mengalami hal yang sama. Mereka belum pernah bersekolah di Indonesia. Bahasa, lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari akan menjadi dunia baru yang harus mereka pelajari perlahan.

Pemerintah Kabupaten Gresik memahami bahwa kepulangan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari proses panjang. Pendampingan psikososial dan konseling telah disiapkan untuk membantu anak-anak beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika diperlukan, rumah singgah juga disediakan agar mereka merasa aman dan nyaman.

Tak hanya itu, proses pencatatan kependudukan akan segera dilakukan agar ketiga anak tersebut memiliki identitas resmi sebagai warga negara. Dengan dokumen tersebut, pintu menuju pendidikan formal dan layanan kesehatan pun terbuka.

“Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari jarak dan migrasi,” ujar Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. “Mereka berhak pulang, berhak merasa aman, dan berhak punya masa depan yang jelas.”

Kabupaten Gresik sendiri memiliki sekitar 5.700 pekerja migran yang tersebar di berbagai kecamatan. Di balik angka itu, ada banyak cerita serupa—anak-anak yang tumbuh jauh dari orang tua, jauh dari negara, dan jauh dari sistem perlindungan yang seharusnya mereka miliki.

Kepulangan tiga anak ini merupakan bagian dari kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan KBRI Indonesia di Kuala Lumpur. Melalui program BUMI Gresik (Peduli Buruh Migran Gresik), pemerintah daerah berupaya memastikan perlindungan PMI dilakukan secara menyeluruh, lintas sektor, dan berkelanjutan.

Hari itu, tiga anak kecil akhirnya pulang. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami arti dari perjalanan panjang yang baru saja dilalui. Namun satu hal pasti: kini mereka tidak lagi sendiri. Negara telah menjemput mereka kembali—ke rumah, ke sekolah, dan ke masa depan yang perlahan mulai terbuka.

Berita Terbaru