JATIMPEDIA, Malang - Filosofi menjaga keuangan negara kini dihidupkan lewat cara yang tidak biasa yakni Festival Budaya Kris. Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengaitkan kembali peran ekonomi dengan akar budaya Nusantara.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Jatim II, Agus Sunandar, menegaskan, keuangan negara tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang membentuk peradaban.
“Dalam kehidupan, ada lima pilar orang, uang, barang, dokumen, dan transportasi. Tanpa itu, negara tidak bisa sejahtera,” ujar Agus, menekankan pentingnya memahami akar budaya dalam tata kelola ekonomi, Jumat (24/10/2025).
Menurutnya, Kemenkeu hadir bukan hanya sebagai pengelola keuangan negara, tapi juga penjaga keseimbangan antara nilai, budaya, dan pembangunan. Ia mencontohkan, Jawa Timur dengan sejarah panjang kerajaan Majapahit dan Singhasari telah menunjukkan bahwa kemakmuran selalu beriringan dengan kearifan budaya.
Agus menyebut, pembelajaran dari masa lalu menjadi kunci untuk mempersiapkan masa depan bangsa. “Kita harus belajar apa yang membuat kerajaan besar itu bangkit dan apa yang membuatnya runtuh. Dari sana lahir kebijakan ekonomi yang berakar pada budaya,” ujarnya.
Ia berharap pendekatan budaya seperti ini dapat memperkuat rasa kebangsaan sekaligus mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan keuangan negara.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Jatim II, Agus Sunandar, Agus Sunandar, menjelaskan, lelang amal ini berbeda dari lelang barang sitaan negara. Barang yang dilelang berupa karya budaya seperti kris, topeng, dan buku.
“Ini bukan lelang barang milik negara, tapi lelang amal. Uangnya untuk kegiatan sosial, sedangkan biaya lelang masuk sebagai penerimaan negara,” ujarnya, Jumat (24/10/2025).
Konsep ini, kata Agus, menjadi sarana pendidikan publik tentang fungsi lelang dan kontribusinya bagi negara. Melalui kegiatan itu, masyarakat diperkenalkan pada bagaimana sistem keuangan negara bekerja hingga ke level terkecil.
“Banyak yang belum tahu, biaya lelang itu bagian dari penerimaan negara bukan pajak. Jadi ada nilai edukatifnya, bukan hanya transaksi,” tambahnya.
Bagi Agus, lelang amal ini juga menjadi jembatan antara ekonomi dan kebudayaan. Dengan menempatkan kris dan topeng sebagai simbol, Kemenkeu ingin menumbuhkan kesadaran bahwa ekonomi yang berkeadilan lahir dari budaya yang hidup.
Editor : Rofiq