Penjualan Mobil Listrik di AS Terancam Anjlok Setelah Penghapusan Subsidi Pemerintah

JATIMPEDIA, Washington – Industri kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat diperkirakan menghadapi fase perlambatan tajam setelah pemerintah mencabut subsidi pembelian dan sewa hingga USD 7.500 untuk mobil baru serta USD 4.000 untuk mobil bekas. Kebijakan ini, yang sebelumnya berlaku hingga 2032 di bawah Undang-Undang Iklim pemerintahan Biden, kini dihentikan lebih cepat melalui kebijakan anggaran pemerintahan baru dari Partai Republik.

Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan produsen otomotif, pemasok baterai, dan perusahaan pertambangan yang bergantung pada permintaan EV. Para analis memperkirakan penjualan mobil listrik akan menurun atau setidaknya stagnan setelah lonjakan sementara akibat konsumen yang bergegas memanfaatkan subsidi terakhir.

Analis dari ING, Coco Zhang, menyebutkan bahwa meskipun target produksi kendaraan listrik banyak direvisi turun, pabrikan tetap berinvestasi besar dalam pengembangan baterai dan efisiensi produksi. “Mereka kini bertaruh pada kemampuan untuk memproduksi model yang lebih hemat energi dan terjangkau,” ujarnya melalui email.

Salah satu contoh nyata datang dari Ford yang tetap melanjutkan rencana pengembangan mobil listrik berharga terjangkau, termasuk pickup listrik empat pintu berukuran menengah dengan harga dasar sekitar USD 30.000 yang dijadwalkan meluncur pada 2027.

Menurut data Cox Automotive dan S&P Global Mobility, pangsa pasar mobil listrik penuh mencapai sekitar 10�ri total penjualan otomotif AS pada Agustus 2025. Meski beberapa negara bagian seperti California dan New York masih memberikan insentif lokal, analis memperkirakan angka tersebut akan bertahan di bawah 10% hingga akhir tahun.

Stephanie Valdez-Streaty dari Cox memperkirakan pangsa penjualan EV bisa meningkat secara bertahap hingga mendekati 25% pada 2030—jauh di bawah target ambisius 50% yang pernah dicanangkan. Sementara itu, riset terbaru BloombergNEF menunjukkan proyeksi yang lebih rendah lagi, yakni sekitar 27% untuk tahun yang sama, setelah mempertimbangkan hilangnya subsidi pajak dan penyesuaian regulasi.

Situasi semakin kompleks dengan upaya Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS yang berencana mencabut wewenang California untuk menetapkan standar emisi khusus yang diikuti sejumlah negara bagian lain. Jika langkah ini terealisasi, pengawasan terhadap standar ramah lingkungan di sektor otomotif bisa semakin longgar.

Meski demikian, para analis tetap optimistis. Zhang menilai bahwa penurunan biaya baterai dan efisiensi produksi secara berkelanjutan akan memperkuat daya saing EV di pasar bebas, meski tanpa dorongan subsidi pemerintah. “Kecepatan transisi kini akan bergantung sepenuhnya pada mekanisme pasar,” tulisnya.

Langkah pemerintah AS untuk menarik dukungan fiskal terhadap industri EV ini juga menjadi sinyal perubahan besar dalam arah kebijakan energi bersih nasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen mobil seperti Ford, Tesla, dan General Motors, tetapi juga oleh ribuan pemasok komponen serta perusahaan tambang litium yang sebelumnya menikmati lonjakan permintaan dari program elektrifikasi.

Berita Terbaru