JATIMPEDIA, Jakarta - Keputusan PT Pertamina (Persero) mempertahankan harga Pertamax di level Rp16.250 per liter per 1 Juli 2026 menuai sorotan. Di tengah tren pelemahan harga minyak mentah dunia, kebijakan ini dinilai sejumlah pakar ekonomi dan kebijakan publik sebagai langkah logis yang berbasis pada strategi price smoothing (penghalusan harga) demi menjaga stabilitas pasar dan memulihkan margin korporasi.
Sesuai pengumuman resmi terbaru, Pertamina memang mempertahankan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 (Rp17.000/liter), meski melakukan penyesuaian turun pada jenis Pertamax Turbo menjadi Rp19.300 dari sebelumnya Rp20.750 per liter.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengungkapkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak bisa serta-merta mengekor pergerakan harian minyak mentah global. Ada formula penetapan harga, kurs rupiah, biaya distribusi, hingga riwayat kompensasi kerugian yang harus dihitung.
Yayan menjelaskan, saat harga Pertamax dikerek ke Rp16.250 pada Juni lalu, angka tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga keekonomian formula yang menyiratkan harga produk dunia sedang melonjak tinggi. Saat itu, Pertamina sengaja menyerap potensi kerugian agar harga di tingkat konsumen tidak melonjak terlalu ekstrem.
"Pertamina menyerap kerugian ketika itu. Sehingga saat harga minyak dunia turun seperti sekarang, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," ujar Yayan, dikutip Senin (6/7/2026).
Berdasarkan simulasi modelnya, Yayan memproyeksikan formula dasar untuk Agustus mendatang sebenarnya mengarah pada kisaran Rp13.700 per liter. Namun, dengan pendekatan price smoothing, Pertamina diperkirakan akan menahan harga di kisaran Rp16.000 per liter guna meminimalisasi volatilitas.
Secara makroekonomi, Yayan memaparkan dua skenario dampak dari kebijakan ini. Jika harga Pertamax dipangkas sesuai formula, inflasi nasional berpotensi turun sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan ke depan (pass-through effect). Di sisi lain, jika harga Pertamax ditahan (skenario saat ini), dampak ke inflasi cenderung nihil, namun seluruh keuntungan dari penurunan harga minyak dunia dialihkan untuk memperkuat postur anggaran negara dan memulihkan margin internal Pertamina.
Senada dengan Yayan, Pakar Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menegaskan bahwa sebagai produk nonsubsidi, Pertamax tidak memiliki kewajiban otomatis untuk turun setiap kali minyak dunia terkoreksi.
"Harga BBM memperhitungkan rata-rata harga periode tertentu, nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, distribusi, pajak, hingga cadangan gejolak pasar," kata Kristian. "Selama harga yang berlaku masih mencerminkan biaya penyediaan, mempertahankan harga bukanlah pelanggaran prinsip pasar."
Kendati secara ekonomi dapat dibenarkan, Kristian mengingatkan pemerintah dan Pertamina untuk tetap mengedepankan asas transparansi. Publik perlu diberikan penjelasan yang terang agar tidak muncul persepsi negatif bahwa konsumen nonsubsidi dieksploitasi demi menambal defisit anggaran negara (fiskal).
Pemerintah diminta tidak mencampuradukkan mekanisme pasar bebas BBM nonsubsidi dengan kepentingan penutupan lubang anggaran secara terselubung.
"Keberhasilan kebijakan energi tidak hanya diukur dari murah atau mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen, keberlanjutan pasokan, kesehatan keuangan negara, serta kepercayaan publik," pungkas Kristian.
Sebelumnya, Pertamina menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 1 Juli 2026. Harga Pertamax tetap dipertahankan sebesar Rp16.250 per liter setelah mengalami penyesuaian pada 10 Juni lalu. Sementara itu, harga Pertamax Turbo turun menjadi Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter. Adapun harga Pertamax Green 95 tetap dipertahankan sebesar Rp17.000 per liter.
Editor : Rizky
URL : https://jatimpedia.id/news-17286-pengamat-sebut-alasan-pertamina-enggan-turunkan-harga-bbm-pertamax