Dapat 16,8 Juta Ton Batu Bara, PLN Jamin Tak Ada Pemadam Lagi

JATIMPEDIA, Jakarta - PT PLN (Persero) memastikan pasokan listrik semakin andal setelah mendapat alokasi tambahan batu bara kalori 4.500 GAR atau medium sebanyak 16,8 juta ton hingga Desember 2026. Dengan tambahan daya mampu pasok 5 GW, PLN mengklaim tidak ada lagi pemadaman listrik bergilir di Jawa Bali sejak 21 Juni 2026.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menuturkan tambahan pasokan ini dialokasikan khusus dari Kementerian ESDM untuk PLN, untuk mengatasi masalah pemadaman bergilir yang terjadi beberapa waktu lalu. Tambahan pasokan ini di luar dari jumlah alokasi domestic market obligation (DMO) yang sudah ditetapkan sebelumnya. "(Jumlahnya) 1,8 juta ton untuk suplai Juli, dan 3 juta ton per bulan dari Agustus hingga Desember," kata Darmawan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (2/7/2026). 

Darmawan menjelaskan dengan jumlah pasokan ini maka sistem kelistrikan memiliki tambahan daya mampu pasok sebesar 5 gigawatt (GW) di atas 35,9 GW. "Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, ini sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal," ujarnya.

PLN mengakui sempat terjadi penurunan produksi batu bara nasional, khususnya yang memiliki jenis kalori tinggi. Saat ini produksi batu bara Indonesia didominasi oleh batu bara kalori rendah. "Dengan adanya (tambahan pasokan) kendala penyediaan energi listrik yakni pemadaman bergilir yang sempat terjadi bisa diselesaikan dengan baik," terangnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pemerintah menahan beberapa rencana ekspor batu bara. Hal ini dilakukan untuk mencegah kembali terjadi pemadaman bergilir yang sebelumnya terjadi di Pulau Jawa. "Atas arahan Bapak Presiden, kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Beberapa ekspor (batu bara) kami tahan untuk kebutuhan dalam negeri dahulu," kata Bahlil.

Dia menyebut kondisi yang saat ini terjadi mirip dengan peristiwa 2022. Pada saat itu pemerintah juga mengeluarkan larangan ekspor batu bara. Menurut Bahlil, masalah listrik ini urusannya menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu, pemerintah dan PLN harus menjaga dan memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat dilayani dengan baik.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan volume ekspor yang sempat ditahan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan operasional PLN. "Langkah ini diambil sebagai bagian dari fungsi pengawasan Kementerian ESDM sebagai regulator. Seiring dengan membaiknya kondisi pasokan dalam negeri, kegiatan ekspor batu bara kini telah berjalan kembali secara normal," ujar Anggia.

Dwi Anggia menyebut sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas dan mitigasi risiko gangguan pasokan listrik di masa mendatang, proses pengadaan energi primer PLN akan diawasi dengan lebih ketat. Proses pengawasan akan melibatkan tim yang terdiri dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, serta PLN.

Anggi menyampaikan pengawasan ini adalah hal wajar dan diperlukan guna memastikan pelaksanaan kewajiban Pasokan Dalam Negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) dilakukan dengan baik.

Berita Terbaru

Rossa Jadi Brand Ambassador Changhong

Produsen peralatan elektronik rumah tangga Changhong Indonesia menunjuk penyanyi Rossa sebagai Brand Ambassador eksklusif melalui kampanye bertajuk "Langgeng Be …