Pasar Mobil Listrik Melesat, GAIKINDO: ICE Mulai Tergusur Secara Struktural

JATIMPEDIA, Jakarta – Mobil listrik (electric vehicle/EV) telah menjadi mesin pertumbuhan baru sektor otomotif nasional. Tingginya minat konsumen terhadap segmen ini sejak tahun lalu berlanjut hingga 2026, didorong oleh efisiensi energi dan faktor ramah lingkungan.

Sejumlah faktor memperkuat tren percepatan adopsi EV, antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, semakin dekatnya selisih harga antara EV dan mobil konvensional (internal combustion engine/ICE), serta jarak tempuh EV yang kini mencapai 600 kilometer dalam sekali pengisian daya, sehingga mampu mengurangi kecemasan jarak (range anxiety) di kalangan pengguna.

 Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk "Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle" yang diselenggarakan Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Diskusi ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Setia Diarta, Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara, Head of PR & Government BYD Indonesia Luther T Panjaitan, serta CEO Degree Synergy International Andrea Suhendra.

Berdasarkan data GAIKINDO, porsi penjualan mobil ICE terus menyusut, dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025. Sebaliknya, pangsa battery electric vehicle (BEV) melonjak dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen di akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV kembali naik menjadi 15,6 persen, sementara ICE turun menjadi 75 persen.

Penjualan BEV tercatat naik 96 persen menjadi 33.146 unit dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (16.926 unit), melampaui pertumbuhan industri secara keseluruhan yang hanya 1,7 persen. Adapun penjualan mobil ICE justru ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung ke kisaran 19-20 persen.

Mulai 1 April 2026, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026, mobil listrik tidak lagi otomatis bebas pajak. Pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) kini diberlakukan untuk EV, dengan besaran insentif diserahkan kepada masing-masing pemerintah daerah. Para pelaku industri merekomendasikan agar pemda menerapkan tarif pajak progresif, yakni tarif rendah untuk BEV di bawah Rp300 juta dan tarif lebih tinggi untuk BEV di atas Rp500 juta.

Selain itu, sejumlah pihak menilai plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) layak mendapatkan tambahan insentif. Mobil jenis ini dinilai dapat menjadi jembatan transisi dari ICE ke BEV, karena mampu beroperasi dengan mode listrik murni di perkotaan sekaligus memiliki mesin pembakaran internal untuk perjalanan jarak jauh. Saat ini, PHEV baru mendapatkan keringanan pajak barang mewah (PPnBM), berbeda dengan BEV yang tarif PPnBM-nya nol persen.

Sementara itu, Menteri Perindustrian melalui Dirjen ILMATE Setia Diarta menegaskan bahwa Kemenperin terus memperkuat regulasi untuk mendukung target net zero emission (NZE). Fokus utama saat ini adalah optimalisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Sesuai roadmap, batas minimal TKDN untuk kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) ditetapkan sebesar 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030.

"Kami ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, tapi terus berkembang menuju pendalaman struktur industri, termasuk baterai, komponen utama, dan rantai pasok nasional," ujar Setia.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini terdapat 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun, 68 perusahaan sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun, serta sembilan perusahaan bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun. Total investasi sektor ini telah mencapai Rp25,674 triliun.

Populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit, terdiri atas 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, serta 537 kendaraan komersial listrik. Pertumbuhan ini menunjukkan tren positif dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) di atas 140 persen dalam lima tahun terakhir.

Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara menegaskan bahwa telah terjadi transformasi besar di industri otomotif Indonesia, dari sistem satu powertrain (ICE) menjadi multi-powertrain. Dominasi ICE di pasar domestik terus terkikis, menandakan perubahan struktural yang nyata.

"Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?" ujar Kukuh.

Sementara itu, Head of PR & Government BYD Indonesia Luther T Panjaitan menyatakan komitmen perusahaannya untuk membangun ekosistem EV di Indonesia, mulai dari rangkaian produk, jaringan penjualan, hingga pabrik. Penjualan BYD per Maret 2026 tercatat naik 65 persen dengan pangsa pasar 41 persen, tertinggi di Indonesia.

"Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin bangun value chain. Dari sisi jaringan, kami kini memiliki 84 dealer di 48 kota," kata Luther.

CEO Degree Synergy International Andrea Suhendra menambahkan bahwa kehadiran model EV baru turut menjadi faktor pendongkrak pasar. Jumlah model BEV saat ini mencapai 74, naik tajam dari tahun 2021 yang hanya 11 model. Ia juga mendukung pemberian insentif tambahan bagi PHEV sebagai teknologi transisi.

"PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, karena bisa menjadi jembatan transisi untuk konsumen yang belum sepenuhnya siap ke BEV, misalnya karena isu charging infrastructure, jarak tempuh, atau kebiasaan berkendara," ujar Andrea.

 

Berita Terbaru

Rossa Jadi Brand Ambassador Changhong

Produsen peralatan elektronik rumah tangga Changhong Indonesia menunjuk penyanyi Rossa sebagai Brand Ambassador eksklusif melalui kampanye bertajuk "Langgeng Be …