Inflasi April 2026 Capai 0,13% Didorong Tarif Angkutan Udara

JATIMPEDIA, Surabaya -  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 secara tahunan atau year on year (YoY) sebesar 2,42%. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan inflasi April 2025 yang tercatat sebesar 1,95%. Kenaikan ini mengindikasikan tekanan harga yang lebih tinggi pada tahun ini.

"Secara year on year pada April 2026, terjadi inflasi sebesar 2,42 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers.

Ateng menyebut, inflasi bulanan ini dipengaruhi sejumlah komoditas. Pendorong utama inflasi bulanan April 2026 yaitu kelompok transportasi dengan inflasi sebesar 0,99�n memiliki andil 0,12% terhadap inflasi umum. Hal ini sejalan dengan periode libur panjang yang mendorong mobilitas masyarakat.

Komoditas yang dominan memberikan dorongan terhadap inflasi yaitu tarif angkutan udara dengan andil terbesar mencapai 0,11�n juga bensin dengan andil 0,02%. Komoditas lain yang juga memberikan inflasi yaitu minyak goreng dengan andil 0,05%, tomat dengan andil 0,03%, beras dan nasi dengan lauk dengan andil masing-masing 0,02%.

"Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi di tahun 2026 pada bulan April ini, yaitu daging ayam ras dengan andil deflasi sebesar 0,11%, emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,09%, cabai rawit dan telur ayam ras dengan andil deflasi masing-masing 0,06�n 0,04%," kata dia. Penurunan harga daging ayam dan telur ini memberikan sedikit ruang bagi daya beli masyarakat di tengah tekanan harga transportasi.

Berdasarkan komponennya, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,23�ngan andil sebesar 0,15%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti adalah minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, ayam goreng, laptop atau notebook, dan gula pasir.

Selain itu, inflasi juga terjadi pada komponen yang diatur pemerintah. Inflasi komponen ini mencapai 0,69�ngan andil inflasi sebesar 0,13%. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen harga diatur pemerintah adalah tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, dan sigaret kretek mesin (SKM).

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi secara tahunan didorong inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi di kelompok ini tercatat paling tinggi, yaitu 11,43�ngan andil inflasi 0,77%. "Inflasi pada kelompok tersebut terutama pada komoditas emas perhiasan," jelas dia. Kenaikan harga emas global turut mendorong lonjakan harga emas perhiasan di dalam negeri.

Selain itu, kelompok pendorong utama inflasi tahunan ini yaitu makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 3,06�ngan andil inflasi 0,9%. "Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini yaitu ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, SKM, dan juga telur ayam ras," kata dia.

Sementara itu, BPS mencatat komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 0,88�ngan andil deflasi sebesar 0,15%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi yaitu daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.

Secara spasial, BPS mencatat inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat yaitu sebesar 2% secara bulanan. Sementara itu, deflasi terdalam terjadi di Maluku dengan besaran 0,17%. 

Berita Terbaru