JATIMPEDIA, Gresik - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik yang berada di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) terus menunjukkan peran strategis dalam mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga saat ini, KEK Gresik–JIIPE tercatat telah menyerap investasi sebesar Rp106,3 triliun, atau sekitar 30 persen dari total akumulasi investasi KEK nasional yang mencapai Rp336 triliun.
Kontribusi tersebut sekaligus menegaskan posisi KEK Gresik sebagai salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengembangan industri hilirisasi dan penguatan rantai pasok nasional.
External Relation and Special Economic Zone Director KEK Gresik, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, menjelaskan, total capaian investasidi KEK Gresik mukai tahun 2021 hingga 2025 tercatat sebesar Rp 106,3 triliun. Sementara untuk investasi sebelum ditetapkan sebagai KEK, Kawasan JIIPE mencatat sebesar Rp 5,2 triliun.
"Sehingga jika digabung secara akumulatif investasi baik sebelum maupun sesudah ditetapkan sebagai KEK,maka jumlahnya mencapai Rp 111,5 triliun," ujar Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti.
Dikatakan, selain mendorong investasi, KEK Gresik juga berkomitmen memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat sekitar melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Menurutnya, program CSR yang dijalankan berfokus pada lima pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, lingkungan, serta pembangunan infrastruktur sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.
“Program CSR kami dirancang agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, baik melalui peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pembangunan fasilitas sosial,” ujarnya.
Dampak keberadaan KEK Gresik juga terlihat dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gresik yang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Data mencatat IPM Gresik meningkat dari 77,30 pada 2021 menjadi 79,69 pada 2025. Peningkatan tersebut mencerminkan membaiknya kualitas pendidikan, kesehatan, serta daya beli masyarakat.
Selain itu, tingkat pengangguran di Kabupaten Gresik juga mengalami penurunan signifikan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, angka pengangguran berhasil ditekan dari 8,00 persen menjadi 5,47 persen, seiring bertambahnya lapangan kerja dari berbagai industri yang beroperasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, menyampaikan bahwa secara umum kondisi ekonomi makro Indonesia masih berada dalam keadaan yang solid.
“Secara umum, indikator makro Indonesia masih cukup baik. Data BPS menunjukkan inflasi tetap terkendali meskipun secara siklus mengalami kenaikan. PMI juga meningkat cukup tinggi di atas 53, yang merupakan salah satu level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai indikator ekonomi lain seperti indeks keyakinan konsumen, indikator ritel, serta daya beli masyarakat juga menunjukkan tren yang positif. Hal ini menandakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah dinamika ekonomi global.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, turut memaparkan bahwa keberadaan KEK terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja di daerah.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di 25 KEK di Indonesia tercatat mencapai Rp82,6 triliun atau sekitar 98 persen dari target yang ditetapkan. Dari sisi ketenagakerjaan, kawasan tersebut berhasil menyerap 88.541 tenaga kerja, bahkan melampaui target yang direncanakan.
“Capaian ini menunjukkan bahwa KEK terus berkembang sebagai instrumen penting dalam mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah,” ujar Rizal.
Kajian yang dilakukan oleh Prospera bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia juga menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki KEK mampu menarik investasi hingga 77 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK. Selain itu, wilayah KEK mampu menyerap tenaga kerja hingga 52 persen lebih besar. Bahkan untuk KEK industri, investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) dapat mencapai sekitar 179 persen lebih tinggi.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Moh. Edy Mahmud, menegaskan bahwa KEK memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah melalui peningkatan investasi, ekspor, serta penciptaan lapangan kerja.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada 2029, di mana KEK diharapkan menjadi salah satu motor penggerak utama untuk mencapai target tersebut.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pendataan di KEK, karena pada dasarnya hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB),” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan media massa, Dewan Nasional KEK berharap pemahaman publik mengenai peran strategis KEK dalam mendorong investasi, ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi nasional dapat semakin meningkat.
Editor : Eka Sapto