JIIPE hingga Smelter Freeport, DPN Petakan Kekuatan Geoekonomi Jawa Timur

JATIMPEDIA, Gresik  - Tim Kedeputian Bidang Geoekonomi Dewan Pertananan Nasional (DPN) menggelar peninjauan strategis ke Kawasan JIIPE Manyar Gresik serta sejumlah objek vital industri pada Rabu (12/8/2026).

Lokasi tersebut merepresentasikan sektor strategis, mulai dari pertahanan udara, kawasan industri dan pelabuhan terpadu, hilirisasi mineral, hingga komoditas bahan baku strategis.

Rangkaian kunjungan tersebut dilakukan untuk memetakan kesiapan dan kapasitas ekosistem industri nasional dalam mendukung ketahanan geoekonomi sekaligus memperkuat kedaulatan nasional.

Peninjauan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik atau Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) dipimpin oleh Tenaga Ahli Utama Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Prof. Dr. Ir. H. Surachman Surjaatmadja, M.M., dan diterima oleh Manajer External Relation PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera  (BKMS) selaku pengembang Kawasan JIIPE Gresik, Roro Ayu, Administrator KEK Gresik Ibnu Sina serta Comdev Manager BKMS, Yudi Darjanto.

Dalam kunjungan tersebut, DPN memfokuskan perhatian pada kesiapan JIIPE sebagai kawasan industri terpadu yang memiliki posisi strategis dalam memperkuat rantai pasok dan konektivitas logistik nasional.

“Dari perspektif geoekonomi, JIIPE memiliki posisi strategis karena mengintegrasikan kawasan industri, pelabuhan laut dalam, dan jaringan logistik dalam satu ekosistem. Integrasi ini penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional, menekan biaya logistik, dan meningkatkan daya saing industri Indonesia,” ujar Tenaga Ahli Utama Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Prof. Dr. Ir. H. Surachman Surjaatmadja, M.M.

Menurutnya, keberadaan infrastruktur pelabuhan yang terhubung langsung dengan kawasan industri memberikan nilai strategis bagi Indonesia di tengah dinamika rantai pasok global. Konektivitas tersebut memungkinkan pergerakan bahan baku dan produk industri menjadi lebih efisien, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi yang panjang.

JIIPE mengintegrasikan kawasan industri manufaktur dengan pelabuhan laut dalam (deep seaport) serta jaringan logistik. Model tersebut memungkinkan aktivitas produksi memiliki akses langsung terhadap jalur distribusi laut, sehingga dapat memangkas rantai transportasi darat dan berpotensi menurunkan biaya logistik.

Bagi DPN, penguatan kawasan industri terpadu seperti JIIPE merupakan bagian penting dari pembangunan ekosistem industri nasional yang tangguh. Infrastruktur kawasan tidak hanya dilihat dari kapasitas fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kelancaran arus barang, mendukung efisiensi industri, dan menghadapi potensi gangguan rantai pasok global.

Peninjauan ke JIIPE sekaligus menjadi bagian dari upaya DPN memetakan infrastruktur strategis yang dapat menjadi pengungkit ketahanan geoekonomi dan kemandirian industri nasional.

Mengawal Hilirisasi Tembaga
Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke fasilitas smelter PT Freeport Indonesia di Gresik. Tim DPN didampingi oleh Vice President Smelting and Refining Development, Nickolas Sinaga.

Di lokasi tersebut, Tim meninjau secara langsung proses peleburan dan pemurnian tembaga serta logam mulia. Peninjauan menjadi bagian dari upaya pengawalan terhadap pelaksanaan kebijakan hilirisasi sumber daya alam agar nilai tambah komoditas strategis dapat diperoleh di dalam negeri.

Kehadiran fasilitas Smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE Gresik menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan industri hilir berbasis mineral. Fasilitas tersebut mengolah konsentrat tembaga yang berasal dari tambang Grasberg di Papua menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu produk utama yang dihasilkan adalah katoda tembaga. Komoditas tersebut memiliki posisi strategis sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) serta sejumlah industri strategis nasional.

Berita Terbaru