Bupati Sumenep Laporkan Tumpahan CPO Gili Iyang ke Pemprov Jatim

JATIMPEDIA, Sumenep - Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menanggapi serius insiden tumpahan puluhan ton minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang mencemari perairan utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura.


Fauzi menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sumenep akan segera menyampaikan laporan resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur.


Langkah itu diambil karena pengelolaan wilayah laut, termasuk penanganan risiko pencemaran lingkungan, berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.


“Nanti akan kami laporkan ke DLH Provinsi, karena kewenangan laut dan risiko pencemaran lingkungannya ada di wilayah mereka,” ujar Fauzi, Sabtu (24/1) siang.


Selain pelaporan, bupati yang menjabat dua periode tersebut juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. 


Ia meminta warga pesisir dan nelayan untuk sementara waktu menghindari area yang terdampak tumpahan minyak demi menjaga keselamatan dan kesehatan.


“Kami minta warga tetap waspada, kalau bisa tidak mendekati area tumpahan, terutama untuk sementara waktu, demi keselamatan dan kesehatan,” katanya.


Fauzi menilai, tumpahan CPO di laut bukan persoalan sepele. Menurutnya, minyak sawit mentah yang mengapung di permukaan perairan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan serius jika tidak segera ditangani dengan langkah yang tepat.


“Tumpahan CPO ini bisa berdampak besar, mulai dari pencemaran laut, kerusakan ekosistem, sampai terganggunya mata pencaharian nelayan,” ungkapnya.


Ia menjelaskan, CPO yang menyebar di laut berpotensi membentuk lapisan tebal di permukaan air. 


Lapisan tersebut dapat menghambat masuknya cahaya matahari dan pertukaran oksigen, sehingga memicu kondisi hipoksia yang membahayakan ikan, kerang, serta biota laut lainnya.


Tak hanya itu, minyak yang terbawa arus juga berisiko menempel pada akar mangrove dan merusak terumbu karang di sekitar perairan terdampak.


“Kalau dibiarkan, dampaknya bukan hanya ke laut, tapi juga ke ekonomi warga, terutama nelayan dan sektor pariwisata pesisir,” ucap Fauzi.


Sebelumnya, insiden tumpahan CPO terjadi setelah kapal tongkang Indo Oncean Marine yang mengangkut minyak sawit mentah kandas dan mengalami kebocoran di pesisir utara Pulau Gili Iyang.


Hingga kini, kapal tersebut masih tersangkut di atas karang, menyebabkan minyak terus keluar dari badan kapal.


Akibat kejadian itu, tumpahan CPO tidak hanya mencemari garis pantai, tetapi juga menggumpal di perairan lepas. Memasuki hari ketiga pada Sabtu (24/1/2026), gumpalan minyak dilaporkan terbawa arus dan angin ke arah timur Pulau Gili Iyang.

Berita Terbaru

Telkom Rampungkan Spin-Off InfraCo Tahap 2

Pasca penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 1 yang berlaku sejak Januari 2026, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) yang operating company PT Telkom …