JATIMPEDIA, Gresik - PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) kembali menegaskan perannya dalam pengembangan masyarakat melalui Pelatihan Kompetensi Pemberdayaan Ekonomi bagi warga di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.
Program pelatihan ini digelar mulai 19 Januari hingga 6 Februari 2026 dan diikuti puluhan peserta yang berasal dari sembilan desa serta tiga lembaga pendidikan di kawasan sekitar KEK. Total peserta berjumlah 40 orang yang dibagi ke dalam dua kelas pelatihan, masing-masing 20 orang untuk pelatihan teknisi perawatan AC dan 20 orang untuk pelatihan menjahit.
Peserta berasal dari Desa Manyarejo, Manyar Sidomukti, Manyar Sidorukun, Karangrejo, Banyuwangi, Bedanten, Tajungwidoro, Kramat, dan Leran. Selain itu, pelatihan juga melibatkan siswa dari SMK Yasmu, SMA Yasmu, dan SMK As Sa’adah.
Tidak hanya difokuskan pada penguasaan keterampilan teknis, pelatihan ini juga dibekali materi kewirausahaan guna mendorong lahirnya pelaku usaha baru di sekitar KEK Gresik. Peserta yang lulus nantinya akan memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik, Zainul Arifin, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Alhamdulillah, program ini akhirnya dapat terlaksana. Ini merupakan ikhtiar jangka panjang dalam memperkuat kualitas SDM melalui pelatihan kewirausahaan dan peningkatan kompetensi,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Zainul menegaskan, peran Disnaker tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Pendampingan pascapelatihan tetap dilakukan agar peserta memiliki kejelasan arah, baik untuk masuk ke dunia kerja maupun merintis usaha secara mandiri.
“Kami terus melakukan pendampingan setelah pelatihan agar peserta bisa terserap di dunia kerja atau mampu membuka usaha sendiri,” katanya.
Ia juga mengungkapkan capaian positif dari program pelatihan sebelumnya. Berdasarkan data Disnaker Gresik tahun 2024, sekitar 90 persen alumni pelatihan telah bekerja, sementara sisanya masih dalam proses pendampingan. Adapun data tahun 2025 masih berjalan.
Lebih jauh, Zainul menekankan pentingnya sertifikasi kompetensi di tengah ketatnya persaingan industri. Menurutnya, dunia usaha kini lebih memprioritaskan sertifikat keahlian sebagai bukti kemampuan tenaga kerja dibandingkan sekadar ijazah formal.
Sementara itu, Kepala Balai Diklat Industri Surabaya, Wido Eko Wardiono, menilai program ini sebagai wujud nyata sinergi antara pemerintah dan sektor industri dalam membangun ekonomi masyarakat.
“Pelatihan industri tidak hanya mentransfer keterampilan, tetapi juga bertujuan menciptakan lapangan kerja baru dan menumbuhkan wirausaha mandiri,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan industri berupa bantuan peralatan usaha, seperti perlengkapan servis AC serta mesin dan alat menjahit. Menurutnya, fasilitas tersebut memungkinkan peserta langsung mengaplikasikan keterampilan yang diperoleh.
“Dengan dukungan peralatan, peserta tidak hanya siap secara skill, tetapi juga memiliki modal awal untuk mandiri secara ekonomi,” tambahnya.
Di sisi lain, Direktur HR & Logistik PT BKMS, Agung P. Guritno, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membuka peluang kerja sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar KEK JIIPE.
“Pelatihan ini tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri, tetapi juga untuk memperkuat kapasitas individu agar mampu berdiri sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, PT BKMS juga melibatkan sekolah-sekolah di sekitar kawasan industri sebagai bagian dari persiapan generasi muda agar lebih siap menghadapi dunia kerja.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat mencetak SDM yang adaptif, kompeten, dan siap bersaing di dunia industri maupun kewirausahaan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Gresik,” pungkasnya.
Editor : Eka Sapto