Nilai Ekonomi Karbon Indonesia Diproyeksikan Capai 5 Miliar Dolar AS

JATIMPEDIA, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menyoroti potensi besar nilai ekonomi karbon yang dimiliki Indonesia. Eddy menyebutnya sebagai aset penting yang harus dimaksimalkan untuk masa depan bangsa. 

Potensi nilai ekonomi karbon bahkan diproyeksikan dapat mencapai USD5 miliar, atau sekitar Rp83,37 triliun per tahun. Menurut Eddy, potensi ini akan menjadi salah satu sumber pendapatan negara baru.

Ia menekankan bahwa menciptakan pasar karbon yang berintegritas, bernilai tinggi, dan berkualitas harus menjadi target utama. “Indonesia berkomitmen untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan,” kata Eddy.

Selain pengurangan emisi karbon, pengembangan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) Indonesia dilihat sebagai pilar pendapatan negara di masa depan. Ia optimis potensi ini dapat dicapai ketika semua pelaku bekerja secara maksimal.

Eddy mengakui bahwa implementasi regulasi baru NEK, seperti yang tertuang dalam Perpres 110/2025, memerlukan waktu dan penyesuaian. Namun, ia menilai aturan ini sebagai "angin segar" yang telah lama ditunggu-tunggu oleh para pelaku usaha.

Ketua Umum ACEXI (Association of Carbon Emission Experts Indonesia), Lastyo Lukito, menekankan kolaborasi adalah kunci implementasi Perpres tersebut. Menurutnya, penting untuk mengedepankan keterbukaan publik dan diskusi agar semua tujuan yang dicanangkan dapat tercapai. 

“Kita berkolaborasi dan terbuka, sehingga integritas dan nilai dari karbon yang kita ciptakan itu tinggi," kata Lastyo. Kolaborasi ini, lanjutnya, diharapkan dapat menghasilkan dampak yang besar hingga ke level masyarakat.

 

Berita Terbaru