Impor Indonesia Melonjak 19,84 Persen, Neraca Dagang Januari-Agustus 2026 Tetap Surplus

Reporter : Fitri Handayani
Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sepanjang Januari-Agustus 2026

JATIMPEDIA, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sepanjang Januari-Agustus 2026 meski nilai impor mengalami kenaikan hampir 20 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan mencapai dolar AS7,25 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus tersebut masih ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas. Sementara itu, sektor migas tetap menjadi penyumbang defisit perdagangan.

Baca juga: Ekspor Jatim Turun, Impor Naik, Defisit Perdagangan Capai 3,44 Miliar Dolar AS

"Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus dolar AS28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar dolar AS21,29 miliar," ujar Ateng di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Kinerja perdagangan pada Agustus 2026 juga masih mencatat surplus sebesar dolar AS3,55 miliar. Kondisi tersebut terjadi di tengah pertumbuhan ekspor dan peningkatan impor secara tahunan.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari-Agustus 2026 mencapai dolar AS193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan ekspor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 5,48 persen menjadi dolar AS185,63 miliar. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor dolar AS159,55 miliar, atau meningkat 7,87 persen secara tahunan.

Dari sisi negara tujuan, China masih menjadi pasar terbesar ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai dolar AS47,44 miliar. Berikutnya adalah Amerika Serikat sebesar dolar AS22,41 miliar dan India sebesar dolar AS12,77 miliar.

Sejumlah komoditas juga menjadi penopang utama surplus perdagangan nonmigas. Lemak dan minyak hewani atau nabati, termasuk CPO dan produk turunannya, memberikan kontribusi sebesar dolar AS24,91 miliar.

Baca juga: Inflasi Jatim Naik Jadi 3,33 Persen, Sumenep Jadi Daerah dengan Kenaikan Tertinggi

Komoditas lainnya adalah bahan bakar mineral sebesar dolar AS18,84 miliar, besi dan baja dolar AS12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya dolar AS8,38 miliar, serta alas kaki sebesar dolar AS4,33 miliar.

Di tengah pertumbuhan ekspor, nilai impor Indonesia justru mengalami peningkatan lebih tinggi. Total impor Januari-Agustus 2026 mencapai dolar AS186,39 miliar, tumbuh 19,84 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Impor nonmigas tercatat naik 16,83 persen menjadi dolar AS157,09 miliar. Sementara itu, impor migas mengalami pertumbuhan lebih tinggi, yakni 39,03 persen menjadi dolar AS29,30 miliar.

Ateng menjelaskan, berdasarkan penggunaan barang, impor masih didominasi bahan baku dan barang penolong dengan nilai dolar AS133,38 miliar, meningkat 20,67 persen secara tahunan.

Baca juga: BPS : Pendidikan Jadi Penyumbang Inflasi Kediri pada September 2026

"Impor barang modal mencapai dolar AS36,75 miliar dan barang konsumsi dolar AS16,27 miliar, masing-masing naik 18,82 persen dan 15,48 persen," jelas Ateng.

China juga menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia. Nilai impor dari negara tersebut mencapai dolar AS66,64 miliar, atau sekitar 42,42 persen dari total impor nonmigas.

Jepang berada di posisi berikutnya dengan nilai impor dolar AS8,88 miliar, disusul Australia sebesar dolar AS7,31 miliar.

Dengan demikian, meski kenaikan impor cukup tinggi, kinerja ekspor nonmigas masih mampu menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap berada di zona surplus hingga Agustus 2026.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru