PLN EPI Proyeksikan Kebutuhan Batu Bara PLTU Capai 174 Juta Ton pada 2027

JATIMPEDIA, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan kebutuhan batu bara untuk memenuhi pasokan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pada 2027 mencapai sekitar 174 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 89 juta ton merupakan batu bara dengan kalori menengah atau medium rank coal.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, mengungkapkan proyeksi tersebut dalam acara Mineral and Batu bara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Selasa.

Menurut Rakhmad, tantangan pemenuhan kebutuhan batu bara nasional terletak pada ketidaksesuaian antara karakteristik batu bara yang dibutuhkan PLTU dengan potensi cadangan yang tersedia di Indonesia.

Sebagian besar desain PLTU di Tanah Air masih menggunakan batu bara berkalori menengah. Sementara itu, cadangan batu bara Indonesia didominasi jenis berkalori rendah atau low rank coal.

Ia menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan, sisa cadangan batu bara medium rank diperkirakan sekitar 4,54 miliar ton. Adapun cadangan high rank coal mencapai 3,4 miliar ton, sedangkan batu bara berkalori rendah menjadi jenis yang paling melimpah.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, PLN berencana menyesuaikan teknologi dan desain PLTU agar dapat memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang tersedia di dalam negeri.

Namun, Rakhmad mengakui proses penyesuaian pembangkit membutuhkan investasi besar dan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. PLN juga harus mempertimbangkan ketersediaan sumber energi pengganti apabila suatu PLTU harus dihentikan sementara untuk proses peningkatan teknologi.

Selain persoalan karakteristik batu bara, PLN EPI turut menghadapi tantangan kesenjangan harga antara pasokan untuk pembangkit listrik dan harga di pasar internasional.

Saat ini, harga batu bara untuk PLN dibatasi maksimal 70 dolar AS per ton untuk kalori tinggi sebesar 6.322 kcal/kg. Sementara itu, harga batu bara dengan spesifikasi kalori serupa di pasar internasional telah mencapai sekitar 150 dolar AS per ton.

Perbedaan harga juga terjadi pada batu bara dengan tingkat kalori menengah maupun rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi primer untuk pembangkit listrik.

Rakhmad mengatakan PLN EPI telah berkomunikasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna mencari dukungan pemenuhan kebutuhan batu bara berkalori menengah.

"Kami sedang berdiskusi dengan Kementerian ESDM, mohon dukungan terkait dengan pemenuhan medium rank coal," ujarnya.

Meski menghadapi sejumlah tantangan, PLN menegaskan komitmennya untuk menyesuaikan kebutuhan teknologi pembangkit dengan potensi sumber daya batu bara nasional demi menjaga keberlanjutan pasokan listrik.

Editor : Rizky

Berita Terbaru