JATIMPEDIA, Jakarta - Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang meningkat menjadi 54, dibandingkan posisi September 2026 sebesar 52,4.
Capaian tersebut sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2024 dan menandakan aktivitas manufaktur nasional masih berada di zona ekspansi. Penguatan terutama didorong meningkatnya permintaan baru serta pertumbuhan pesanan dari pasar ekspor.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Hidayat Amir, mengatakan perkembangan tersebut memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
"Ekspansi manufaktur memperkuat optimisme terhadap kinerja perekonomian di tengah ketidakpastian. Pemerintah akan memberikan dukungan dengan menjaga kesinambungan permintaan domestik, memperkuat daya saing industri, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif," ujar Hidayat di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, keberlanjutan pertumbuhan sektor manufaktur diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
Prospek industri nasional juga didukung oleh aktivitas manufaktur sejumlah negara mitra dagang yang masih tumbuh. Di kawasan ASEAN, PMI Thailand tercatat 54,8, Vietnam 52,3, dan Malaysia 51,0.
Ekspansi juga berlangsung di India dan Taiwan yang masing-masing mencatat PMI 54,9, serta Jepang sebesar 53,3. Sementara di negara maju, Amerika Serikat mencatat 56 dan Jerman 54,2. Kawasan Euro berada di level 52,4, meskipun Prancis kembali mengalami kontraksi dengan PMI 49,3.
Hidayat menilai perkembangan tersebut membuka peluang bagi peningkatan permintaan ekspor produk manufaktur Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dinamika ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi perdagangan internasional.
"Dinamika ekonomi global dan geopolitik yang masih berlangsung, perlu diwaspadai dan diantisipasi. Antisipasi dilakukan dengan penguatan fundamental ekonomi domestik dan daya saing produk nasional," katanya.
Indikasi berlanjutnya aktivitas industri dan investasi dalam negeri juga terlihat dari peningkatan impor bahan baku serta barang modal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia hingga September 2026 mencapai 24,24 miliar dolar AS atau tumbuh 18,41 persen secara tahunan.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi.
Pemerintah berharap momentum ekspansi manufaktur dapat terus dipertahankan melalui penguatan permintaan dalam negeri, peningkatan daya saing industri, dan penciptaan iklim investasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor : Rizky