JATIMPEDIA, Banyuwangi -Ribuan telur rebus bergelantungan di batang-batang pohon pisang yang dihias warna-warni. Di atas becak dan sepeda hias, telur-telur itu diarak menyusuri jalan Kota Banyuwangi, dalam semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Suara rebana mengiringi langkah peserta pawai yang bergerak perlahan sejauh sekitar tiga kilometer. Iring-iringan dimulai dari Pendopo Sabha Swagata Blambangan menuju Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Di sepanjang jalan, warga berdiri menunggu. Bukan sekadar untuk menyaksikan kemeriahan pawai, tetapi juga menanti saat telur-telur itu dibagikan. Ketika peserta mendekat, warga berebut mengambil telur yang dibagikan sebagai bagian dari tradisi endhog-endhogan.
Tradisi yang telah lekat dengan peringatan Maulid Nabi di Banyuwangi itu kembali dihidupkan dalam sebuah pawai yang melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, serta masyarakat.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan endhog-endhogan bukan hanya kemeriahan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan masyarakat yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
"Endhog-endhogan sudah menjadi tradisi Maulid di Banyuwangi, dan kegiatan ini bagian dari menjaga tradisi tersebut," ujarnya.
Bagi masyarakat, telur yang diarak dan kemudian dibagikan bukan sekadar hidangan. Di baliknya terdapat pesan tentang berbagi dan kebersamaan.
Menurut Ipuk, semangat tersebut menjadi salah satu nilai penting yang ingin terus dirawat melalui pawai endhog-endhogan.
"Ini bagian dari konsep berbagi, serta ruang untuk mempererat kebersamaan antara pemerintah, masyarakat dan berbagai unsur yang terlibat dalam perayaan," katanya.
Suasana pawai pun terasa seperti pesta rakyat. Becak dan sepeda yang dihias menjadi bagian dari iring-iringan, sementara bunyi rebana menyatu dengan sorak warga yang memenuhi tepian jalan.
Ipuk bersama jajaran pemerintah daerah turut berjalan dalam rombongan. Kehadiran mereka bersama Kementerian Agama dan organisasi keagamaan memperlihatkan bagaimana tradisi tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat.
Tiga kilometer perjalanan itu akhirnya tidak sekadar menjadi rute pawai. Ia menjadi perjalanan sebuah tradisi: dari telur yang ditata dan dihias, diarak bersama, hingga berpindah ke tangan warga.
Di situlah endhog-endhogan menemukan maknanya. Tradisi Maulid tidak hanya dirayakan dengan kemeriahan, tetapi juga dengan berbagi dan mempererat hubungan antarsesama.
Ribuan telur yang semula tersusun rapi di atas pohon pisang hias pun perlahan habis dibagikan. Yang tersisa bukan hanya hiasan yang telah kosong, melainkan pesan sederhana bahwa sebuah perayaan akan terasa lebih berarti ketika dinikmati dan dibagikan bersama.
Editor : Rofiq