JATIMPEDIA, Jember - Pertamina menambah pasokan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 100 kiloliter (KL) atau 100 ribu liter ke Kabupaten Jember. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Tambahan pasokan tersebut terdiri atas 50 KL Pertalite dan 50 KL Pertamax. Distribusi tambahan BBM mulai dilakukan secara bertahap sejak Sabtu (6/9/2026).
Penambahan pasokan dilakukan setelah antrean kendaraan terjadi di sejumlah SPBU Jember. Kondisi tersebut dipengaruhi kendala distribusi BBM dari Depo Tanjungwangi, Banyuwangi, menuju wilayah Jember.
Bupati Jember Muhammad Fawait sebelumnya turun langsung memantau kondisi sejumlah SPBU secara tertutup. Dari pemantauan tersebut, dia mendapati antrean kendaraan roda dua dan roda empat di beberapa lokasi.
Fawait kemudian melakukan koordinasi dengan perwakilan Sales Branch Manager (SBM) dan Depo Pertamina Banyuwangi dalam rapat yang digelar di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Minggu (6/9/2026) malam.
“Saya langsung turun ke bawah memantau kondisi riil di SPBU-SPBU yang ada di Kabupaten Jember. Memang di beberapa SPBU terjadi antrean. Karena itu kami langsung berkoordinasi dengan pihak Pertamina,” ujar Fawait saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember.
Hasil koordinasi memastikan persoalan yang terjadi bukan karena stok BBM di Jember habis. Ketersediaan BBM disebut masih aman, sedangkan kendala berada pada proses distribusi dari Tanjungwangi menuju wilayah Besuki Raya.
Terpisah, Ketua DPC Hiswana Migas Besuki, Ikbal Wilda Fardana, mengatakan salah satu faktor yang menghambat distribusi adalah kemacetan di jalur penyeberangan Ketapang, Banyuwangi.
Kondisi tersebut terjadi seiring adanya revitalisasi ASDP di kawasan Pelabuhan Ketapang. Kemacetan yang terjadi bahkan mencapai sekitar 15 kilometer dan berdampak terhadap perjalanan kendaraan pengangkut BBM.
“Secara stok itu kami pastikan aman. Tapi memang ada kendala pendistribusian terkait dengan jalur distribusi dari Depo Tanjungwangi menuju ke Kabupaten Jember. Karena di sana kemarin ada revitalisasi ASDP, pelabuhan penyeberangan di Ketapang, sehingga terjadi kemacetan yang cukup panjang, kurang lebih 15 kilometer,” kata Ikbal saat dikonfirmasi di Gedung DPRD Jember, Senin (7/9/2026).
Masalah distribusi tersebut kemudian diperparah dengan meningkatnya konsumsi BBM masyarakat. Ikbal menyebut konsumsi naik sekitar 20 hingga 25 persen setelah muncul informasi mengenai kelangkaan BBM.
“Kalau secara pasokan itu sebenarnya normal. Tapi dengan adanya isu kelangkaan ini dari beberapa hari yang lalu, konsumsi masyarakat terhadap BBM meningkat 20 sampai 25 persen,” ujarnya.
Kondisi itu memunculkan fenomena panic buying. Sebagian masyarakat memilih membeli BBM lebih awal karena khawatir persediaan habis, termasuk ketika bahan bakar di kendaraan mereka sebenarnya masih mencukupi.
Antrean panjang yang terlihat di SPBU kemudian turut memicu kekhawatiran masyarakat lain. Warga yang melihat antrean ikut melakukan pengisian BBM karena takut mengalami kelangkaan.
Untuk mempercepat normalisasi distribusi, Pertamina melakukan pengalihan jalur pasokan. Selain mengoptimalkan Depo Tanjungwangi, Pertamina menyiapkan alternatif pengiriman melalui terminal lain.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan alternatif rute distribusi dapat dilakukan melalui Fuel Terminal Malang dan Integrated Terminal Surabaya.
“Alternatif rute distribusi dilakukan bisa dari Fuel Terminal Malang dan Integrated Terminal Surabaya,” kata Ahad.
Penggunaan armada mobil tangki juga disesuaikan dengan ketersediaan kendaraan di masing-masing terminal penyangga. Upaya tersebut dilakukan agar pengiriman BBM ke SPBU tetap berjalan selama proses pemulihan distribusi.
“Penambahan pasokan sebanyak 100 KL yang terdiri dari 50 KL Pertalite dan 50 KL Pertamax dilakukan secara bertahap mulai Sabtu (6/9/2026) kemarin,” imbuh Ahad.
Sementara itu, Hiswana Migas meminta masyarakat Jember tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Warga diimbau membeli sesuai kebutuhan dan tidak ikut mengantre apabila persediaan BBM kendaraan masih cukup.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying, tetap membeli BBM sesuai dengan kebutuhan. Ketika kondisi BBM di kendaraan masih cukup, tidak perlu mengantre, apalagi sampai membawa jeriken,” tegas Ikbal.
Menurut pria yang juga anggota DPRD Jember Asal PPP itu, panic buying justru dapat memperburuk situasi karena pembelian dalam jumlah besar membuat stok BBM di SPBU lebih cepat terserap.
“Ketika masyarakat ini membeli BBM secara besar, dengan jumlah yang banyak, masyarakat yang lain tidak akan kebagian. Jadi kami mohon masyarakat Kabupaten Jember untuk tidak panic buying supaya stok BBM di Kabupaten Jember tetap terjaga,” katanya.
Ikbal juga memastikan BBM tetap tersedia dan akan kembali dikirim apabila stok di suatu SPBU habis sementara akibat tingginya serapan konsumen.
“Kami pastikan sesuai dengan yang di lapangan, bahwa BBM ini selalu ada. Artinya, tidak akan habis. Kalaupun kosong karena diserbu konsumen, pasti akan datang lagi pengirimannya,” ujarnya.
Selain mengimbau konsumen, Hiswana Migas meminta pengawas SPBU tidak melayani pembelian BBM menggunakan jeriken. Pembelian dengan cara tersebut disebut tidak diperbolehkan.
“Pembelian jeriken kan sudah tidak diperbolehkan lagi. Ini yang mungkin kita nanti sampaikan kepada pihak SPBU, ke pengawas SPBU masing-masing, supaya tidak melayani pembelian jeriken,” pungkas Ikbal.
Bupati Jember Muhammad Fawait juga meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi kelangkaan BBM yang belum terverifikasi, terutama kabar yang beredar melalui media sosial.
“Masyarakat tidak perlu panik. Ini berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya yang dipengaruhi kondisi global. Saat ini murni kendala pada proses distribusi dan pengiriman. Stok BBM nasional maupun untuk Kabupaten Jember aman,” tegas Fawait.
Editor : Eka Sapto
URL : https://jatimpedia.id/news-18374-pertamina-gelontor-100-ribu-liter-bbm-ke-jember-atasi-kelangkaan