Jejak Minyak Tua Jadi Andalan, Asesor UNESCO Turun Gunung Nilai Geopark Bojonegoro

JATIMPEDIA, Bojonegoro  – Peluang Kabupaten Bojonegoro menyandang status UNESCO Global Geopark (UGGp) kini memasuki fase penentuan. Dua asesor UNESCO turun langsung meninjau sejumlah geosite unggulan untuk memastikan potensi yang dipaparkan dalam dokumen pengajuan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.


Asesmen lapangan yang berlangsung itu menjadi bagian dari proses validasi menuju pengakuan UNESCO. Tema yang diusung Bojonegoro pun terbilang unik, yakni "The Unique Petroleum System on Land", yang menonjolkan kekayaan sistem perminyakan darat sebagai identitas utama kawasan.


Rombongan asesor, Andreas Josef Schüller dari Jerman dan Li Yue dari China, memulai penilaian dari Geosite Antiklin Kawengan. Perjalanan dilanjutkan ke singkapan antiklin, Rumah Singgah dan Museum Geopark Wonocolo, Kebun Alpukat, View Point Teksas Wonocolo, Geosite Wonocolo Hargomulyo, hingga Geosite Formasi Bulu.


Di kawasan Wonocolo, keduanya menyaksikan langsung aktivitas penambangan dan penyulingan minyak tradisional yang masih bertahan hingga sekarang. Warisan industri minyak rakyat tersebut menjadi salah satu nilai yang dinilai mampu memperkuat karakter Geopark Bojonegoro di tingkat dunia.


Tak hanya menyuguhkan panorama geologi, masyarakat juga memperkenalkan kekayaan budaya melalui kuliner khas Wonocolo, seperti nasi gulung dan dawet hitam asal Desa Tinumpuk.


Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Bojonegoro, Andik Sudjarwo mengatakan, tema petroleum system menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah.


"Di Indonesia hanya ada dua geopark yang mengangkat tema petroleum system, yaitu Sumatera Utara dan Bojonegoro. Dokumen yang kami ajukan juga mendapat respons sangat baik dari Sekretariat UNESCO," ujarnya. Rabu (29/7/2026).


Menurut Andik, asesmen lapangan merupakan tahapan untuk mencocokkan dokumen pengajuan dengan kondisi nyata di lapangan. Hasil validasi tersebut akan menjadi salah satu dasar penilaian UNESCO dalam menentukan kelayakan Bojonegoro menyandang status UNESCO Global Geopark.


Sementara itu, Kepala Bappeda Bojonegoro, Helmy Elizabeth, menjelaskan kedua asesor memperoleh paparan lengkap mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, warisan budaya, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan geopark.


"Semoga seluruh potensi tersebut mampu memenuhi standar UNESCO. Jika berhasil lolos, status UNESCO Global Geopark diyakini akan menjadi pintu masuk untuk meningkatkan daya tarik wisata, investasi, sekaligus memperkuat pelestarian warisan geologi dan budaya di Bojonegoro," pungkasnya.

Berita Terbaru