Catat Perputaran Uang Global Tembus USD 80 Miliar

Gelaran Piala Dunia 2026 Ekonomi RI Ikut Kecipratan Rp 5 Triliun

JATIMPEDIA, Surabaya - Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan Spanyol keluar sebagai juara dunia usai mengalahkan Argentina 1-0 pada laga final di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (19/7/2026) waktu setempat. Di balik kemeriahan turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ajang sepak bola terbesar di dunia ini juga mencatat dampak ekonomi yang sangat besar.

Mengusung format baru dengan 48 peserta dan total 104 pertandingan, Piala Dunia 2026 diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi (gross output) global hingga USD 80,06 miliar atau sekitar Rp1.300 triliun. Angka tersebut mencerminkan besarnya aktivitas ekonomi yang tercipta, mulai dari sektor pariwisata, transportasi, penyiaran, perdagangan, hingga industri kreatif.

Berdasarkan laporan FIFA dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dampak ekonomi turnamen terbagi ke dalam tiga komponen utama.

Kontribusi langsung (direct impact) mencapai USD 6,74 miliar. Nilai ini berasal dari belanja operasional penyelenggaraan, penjualan tiket, akomodasi, serta pengeluaran sekitar 6,5 juta wisatawan yang datang ke 16 kota tuan rumah.

Sementara itu, dampak tidak langsung (indirect impact) diperkirakan mencapai USD 17,95 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas rantai pasok, pembangunan infrastruktur, layanan logistik, hingga sektor transportasi yang mendukung penyelenggaraan turnamen.

Porsi terbesar berasal dari dampak lanjutan (induced impact) yang mencapai USD 55,37 miliar. Nilai tersebut tercipta dari meningkatnya pendapatan pekerja di berbagai sektor yang kemudian mendorong konsumsi rumah tangga selama berlangsungnya Piala Dunia.

Di sisi lain, FIFA memproyeksikan pendapatan langsung penyelenggaraan mencapai USD 10,9 miliar atau meningkat sekitar 56 persen dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022. Hak siar televisi menjadi penyumbang terbesar dengan nilai lebih dari USD 4,2 miliar, disusul pendapatan dari sponsor dan kemitraan komersial yang melampaui USD 2,8 miliar.

Efek ekonomi Piala Dunia 2026 tidak hanya dirasakan oleh negara penyelenggara. Indonesia juga memperoleh manfaat melalui meningkatnya aktivitas konsumsi dan bisnis selama turnamen berlangsung.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan perputaran uang yang dipicu Piala Dunia mencapai sekitar Rp5,03 triliun. Nilai tersebut berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari penyiaran, perhotelan, restoran, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo Wicaksono, mengatakan manfaat ekonomi Piala Dunia meluas hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat terhadap turnamen mampu mendorong aktivitas ekonomi di sektor horeka, periklanan, hiburan, serta berbagai kegiatan komersial yang melibatkan pelaku usaha lokal.

Horeka dan Penyiaran Jadi Penyumbang Terbesar
Sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp2,4 triliun. Lonjakan tersebut didorong oleh maraknya kegiatan nonton bareng (nobar) yang meningkatkan konsumsi makanan dan minuman di berbagai daerah.

Sementara itu, sektor penyiaran dan periklanan menghasilkan sekitar Rp1,76 triliun melalui belanja iklan, sponsor, serta peningkatan jumlah penonton siaran pertandingan.

Adapun aktivitas komersial di luar penyiaran, termasuk UMKM, menyumbang sekitar Rp850 miliar. Perputaran tersebut berasal dari penjualan merchandise, perangkat elektronik, hingga penyelenggaraan festival dan berbagai kegiatan pendukung selama Piala Dunia berlangsung.

Selain memberikan dampak finansial, Piala Dunia 2026 juga menciptakan nilai ekonomi sosial (social impact) secara global yang diperkirakan mencapai USD 8,28 miliar.

Sektor pariwisata menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 62 persen atau USD 5,16 miliar. Selanjutnya, sektor olahraga menyumbang USD 2,60 miliar atau sekitar 32 persen, sedangkan industri hiburan digital dan media sosial memberikan kontribusi sekitar USD 520 juta.

Dengan nilai economic multiplier mencapai 5,74, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa turnamen sepak bola terbesar di dunia bukan hanya menjadi pesta olahraga, tetapi juga motor penggerak ekonomi global yang mampu menciptakan manfaat bagi berbagai negara, termasuk yang tidak menjadi tuan rumah.

Berita Terbaru