Tahun 2027 Optimis Beroperasi Normal

PT Freeport Indonesia Target Produksi 21 Ton Emas Tahun 2026

JATIMPEDIA, Jakarta - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas mencapai 700.000 ounce atau sekitar 21 ton sepanjang 2026, seiring target produksi tembaga sebesar 800 juta pound. Meski masih terdampak gangguan operasional akibat longsoran di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), perusahaan optimistis produksi akan kembali meningkat mulai 2027 hingga mencapai level normal pada akhir tahun tersebut.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, kapasitas operasi tambang pada 2026 masih berada di kisaran 60% akibat insiden longsoran yang terjadi di area GBC pada September 2025. Kondisi tersebut turut menekan volume penambangan bijih dibandingkan tahun sebelumnya.

"Sebagaimana diketahui, tahun ini PTFI masih hanya dalam kapasitas sekitar 60% di hulu karena dampak longsoran yang terjadi pada September," kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, Selasa (14/7/2026).

Akibat kondisi tersebut, produksi bijih pada 2026 diproyeksikan hanya mencapai 124.000 ton per hari, turun dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 139.000 ton per hari.

Meski demikian, Freeport memperkirakan pemulihan produksi akan berlangsung bertahap. Produksi bijih ditargetkan meningkat menjadi 170.000 ton per hari pada 2027, kemudian naik menjadi 208.000 ton per hari pada 2028, dan mencapai 226.000 ton per hari pada 2029.

Seiring normalisasi operasi tambang, produksi logam juga diproyeksikan melonjak. Pada 2027, Freeport menargetkan produksi 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas atau sekitar 31 ton. Produksi diperkirakan kembali meningkat pada 2028 menjadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas atau sekitar 43 ton.

Pada 2029, produksi diperkirakan bertahan di kisaran 1,6 miliar pound tembaga dengan 1,3 juta ounce emas atau sekitar 40 ton. Sementara pada 2030, produksi tembaga diproyeksikan naik menjadi 1,7 miliar pound, sedangkan produksi emas mencapai 1,2 juta ounce atau sekitar 37 ton.

"Kami menargetkan produksi kembali meningkat secara bertahap hingga operasi tambang kembali normal pada akhir 2027," ujar Tony.

Untuk menjaga kesinambungan produksi jangka panjang, Freeport juga menyiapkan pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2029.

Tambang baru tersebut akan menggantikan kontribusi tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang secara alami memasuki fase penurunan produksi.

"Tambang Kucing Liar akan mulai ditambang pada 2029 untuk menggantikan DMLZ yang tonasenya mulai menurun, sehingga tingkat produksi sekitar 220.000 ton bijih per hari dapat dipertahankan," kata Tony.

Di sisi hilir, Freeport menargetkan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di Gresik, Jawa Timur, kembali beroperasi pada September 2026 setelah proses pemulihan selesai dilakukan.

Menurut Tony, smelter tersebut akan kembali menerima dan mengolah konsentrat dari Papua mulai September, kemudian dilanjutkan dengan proses peningkatan kapasitas produksi (ramp-up) hingga akhir tahun.

"Smelter akan mulai kembali mengolah dan memurnikan konsentrat dari Papua pada September tahun ini, kemudian dilakukan ramp-up hingga akhir tahun," ujarnya.

Dengan pulihnya operasi tambang secara bertahap dan kembali beroperasinya smelter Gresik, Freeport memperkirakan kinerja produksi akan kembali meningkat dalam beberapa tahun ke depan, didukung tambahan pasokan dari tambang Kucing Liar mulai 2029.

Berita Terbaru