JATIMPEDIA, Jakarta – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi dalam dua bulan terakhir menjadi katalis bagi pergeseran tren di industri otomotif nasional. Masyarakat mulai melirik kendaraan listrik (EV) sebagai solusi mobilitas yang lebih hemat biaya di tengah fluktuasi harga energi global.
PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi secara bertahap. Pada 18 April 2026, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Kenaikan kembali terjadi pada 10 Juni 2026, di mana harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Lonjakan harga BBM ini berdampak langsung pada perilaku konsumen. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), terjadi perubahan signifikan dalam struktur pasar otomotif nasional. Pangsa mobil bermesin pembakaran internal (ICE) yang pada 2021 mencapai 99,6 persen turun menjadi 75 persen pada Maret 2026. Sebaliknya, pangsa battery electric vehicle (BEV) melonjak dari hanya 0,1 persen menjadi 15,6 persen dalam periode yang sama.
Direktur Jenderal ILMATE Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, menilai kenaikan harga energi dan semakin terjangkaunya kendaraan listrik menjadi pendorong utama percepatan adopsi EV di Indonesia.
"Kemajuan teknologi juga membuat jarak tempuh EV kini mampu mencapai hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian penuh," ujar Setia di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Secara volume, penjualan BEV sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 57.087 unit, meningkat sekitar 80 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada Maret 2026, penjualan BEV tercatat meningkat signifikan sebesar 96 persen menjadi 33.146 unit dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 16.926 unit.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kebijakan kenaikan BBM nonsubsidi secara tidak langsung mendorong konsumen menengah ke atas untuk beralih ke kendaraan listrik.
"Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengonsumsi Pertamax Turbo atau Pertamina Dex, ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV," kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto juga mengamini hal tersebut. Menurutnya, penyesuaian harga BBM dapat menjadi faktor yang membuat konsumen semakin memperhitungkan biaya kepemilikan dan melihat EV sebagai pilihan mobilitas yang relevan.
"Penyesuaian harga BBM dapat menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen semakin memperhitungkan biaya kepemilikan dan melihat EV sebagai pilihan mobilitas yang relevan," ujar Fransiscus kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Dari sisi efisiensi, mobil listrik menawarkan biaya operasional yang jauh lebih rendah. Untuk jarak tempuh yang setara, biaya pengisian daya penuh hanya membutuhkan sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000, sementara mobil bensin memerlukan pengeluaran sekitar Rp500.000 hingga Rp700.000.
Meski tren positif, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengingatkan bahwa kenaikan BBM tidak otomatis membuat semua masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Faktor lain seperti kepastian insentif pemerintah, suku bunga kredit, dan daya beli kelas menengah yang tengah tertekan turut memengaruhi keputusan pembelian.
"Tidak serta-merta begitu. Pembeli mobil listrik umumnya berasal dari kalangan yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Sementara itu, kelas menengah saat ini justru sedang menghadapi tekanan," ujar Kukuh.
Editor : Taufiq