JATIMPEDIA, Pasuruan - PT Satoria Aneka Industri (Satoria Pharma) resmi mengoperasikan mesin produksi (line) ke-4 di pabriknya di Kabupaten Pasuruan. Dengan tambahan lini baru ini, perusahaan mencatatkan diri sebagai produsen cairan infus terbesar di Indonesia.
Peresmian tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) William Adi Teja, Bupati Pasuruan H. M. Rusdi Sutejo, serta jajaran pejabat pemerintah daerah.
CEO & Founder Satoria Group, Alim Satria dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan beroperasinya Line ke-4 mendorong kapasitas produksi perusahaan hingga mencapai 230 juta botol per tahun. "Dengan kapasitas tersebut, kami menjadi pabrikan infus terbesar di Indonesia. Ini sejalan dengan pertumbuhan bisnis kami yang konsisten di kisaran 25 persen per tahun, serta meningkatnya kebutuhan pasar infus nasional," ujarnya.
Ia menegaskan, ekspansi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi industri farmasi nasional sekaligus memastikan ketersediaan produk yang berkualitas dan terjangkau. Satoria Pharma juga telah menyiapkan rencana pembangunan Line ke-5 dengan kapasitas tambahan 170 juta botol per tahun. Jika terealisasi pada 2028, total kapasitas produksi akan mencapai 400 juta botol per tahun.
"Peresmian ini bukan hanya soal peningkatan kapasitas, tetapi juga kemajuan dalam manufaktur cerdas dan pengendalian kualitas. Ke depan, kami akan mengembangkan infus terapeutik tingkat tinggi dan infus nutrisi," papar Alim Satria.
Selain ekspansi produksi, Satoria Pharma juga menargetkan penawaran saham perdana (IPO) pada 2027 guna memperkuat struktur permodalan dan memperluas penetrasi ke pasar ethical serta sektor alat kesehatan.
Gubernur Jatim Khofifah menyambut baik ekspansi industri farmasi yang memproduksi infus ini. Terutama karena industri farmasi Satoria Farma memberikan garansi terhadap pemenuhan kebutuhan cairan infus di lingkungan rumah sakit yang ada di Jatim terutama rumah sakit Pemprov Jawa Timur.
"Kita sangat menyambut baik, terutama karena dari pabrik ini ada potensi kerjasama dengan 14 rumah sakit milik pemprov Jawa Timur untuk mendapatkan suplai infus," kata Khofifah.
Tidak hanya itu, suplai cairan infus juga bisa menjamin ketersediaan untuk seluruh tim manajemen rumah sakit di lingkungan Pemprov Jawa Timur.
“Saya RSUD di lingkungan Pemprov Jatim akan menjadi pioner di lingkungannya masing-masing," ujarnya.
Lebih lanjut, dikatakannya, Satoria Farma menjadi bagian penting dalam industri farmasi sekaligus penguat industri subtitusi impor. Obsesi tersebut dimulai zaman orde Baru, orde reformasi hingga kemudian melalui tangan dingin Pak Alim Satria yang menginisiasi bagaimana industri farmasi dirintis, dibesarkan dan terus dikembangkan dari Kabupaten Pasuruan.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, menyambut positif langkah ekspansi Satoria Pharma. Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan farmasi nasional.
"Kebutuhan cairan infus di Indonesia cukup besar. Dengan populasi sekitar 280 hingga 300 juta jiwa, kebutuhan mencapai 388 juta botol per tahun. Ini peluang besar sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi," jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun sekitar 70-80 persen bahan baku obat masih bergantung pada impor, cairan infus menjadi salah satu produk yang memiliki potensi bahan baku lokal, seperti garam farmasi. Saat ini terdapat empat industri garam farmasi nasional, dimana tiga di antaranya berada di Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga mengapresiasi ekspansi yang dilakukan Satoria Pharma. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya substitusi impor dan penguatan ekonomi daerah.
"Satoria merupakan kekuatan ekonomi bagi Pasuruan. Kami berharap ekspansi ini terus berkembang dan mampu mendukung kebutuhan rumah sakit, khususnya milik Pemprov Jawa Timur," ujarnya.
Khofifah menambahkan, Pemprov Jawa Timur saat ini mengelola 14 rumah sakit, termasuk RSUD Dr. Soetomo, yang memiliki kapasitas tempat tidur terbesar di Indonesia. Untuk itu ia mendorong adanya kerja sama strategis dalam pemenuhan kebutuhan infus bagi fasilitas kesehatan tersebut.
Di sisi lain, Managing Director Satoria Pharma, Adi Pranoto Alim menyebut bahwa saat ini perusahaan telah memasok sekitar 50 persen kebutuhan infus nasional dan menjangkau sekitar 2.700 dari total 3.400 rumah sakit di Indonesia.
"Jika kapasitas sudah optimal dan kebutuhan dalam negeri terpenuhi, kami akan memperluas pasar ekspor ke Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Permintaan dari luar negeri sebenarnya sudah cukup tinggi," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa keunggulan produk Satoria adalah penggunaan teknologi ESBM (Extrusion Stretch Blow Molding) memungkinkan efisiensi biaya produksi hingga 40-50 persen dibandingkan teknologi konvensional, sehingga meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Dengan ekspansi ini, Satoria Pharma diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mendorong kemandirian industri farmasi nasional sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap produk kesehatan yang berkualitas.
Editor : Eka Sapto