Harga Air Minum Kemasan Bakal Naik Imbas Krisis Bahan Baku Plastik

JATIMPEDIA, Jakarta  - Industri air minum dalam kemasan (AMDK) terancam gelombang kenaikan harga akibat krisis bahan baku plastik yang dipicu gejolak geopolitik dan gangguan pasokan global..

Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) mencatat, harga material kemasan berbasis plastik seperti polietilen (PE) dan polipropilen (PP) telah melonjak hingga 100�lam beberapa bulan terakhir berdasarkan laporan dari pelaku usaha di berbagai daerah..

Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo mengatakan lonjakan tersebut terjadi di tengah upaya pelaku usaha menjaga harga jual air minum dalam kemasan (AMDK) tetap terjangkau bagi masyarakat.

"Kenaikan harga bahan baku kemasan yang mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa. Ini merupakan tekanan struktural yang secara langsung memukul daya tahan industri," kata Karyanto dalam keterangannya, dikutip Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, gejolak global telah berdampak terhadap lonjakan harga minyak mentah dan gas alam yang kemudian mendorong kenaikan biaya produksi plastik, mengingat lebih dari 99% plastik global berbasis bahan bakar fosil.

Karyanto menjelaskan bahwa gangguan pasokan juga terjadi di Timur Tengah, yang selama ini menyumbang sekitar seperempat ekspor polietilen (PE) dan polipropilen (PP) dunia.

Sejumlah perusahaan petrokimia di kawasan itu disebutnya telah menetapkan keadaan kahar alias force majeure, sehingga kontrak pembelian bahan baku dibatalkan secara massal. Situasi ini pun dinilai memperparah tekanan pada industri AMDK.

"Amdatara memperkirakan lonjakan harga bahan baku tersebut akan mendorong kenaikan harga kemasan jadi sekitar 25% hingga 50%, bergantung pada jenis material dan skala produksi," ujarnya.

Jika kondisi ini berlanjut, Karyanto menyebut harga jual produk AMDK berpotensi ikut naik, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan stok dan likuiditas.

Untuk itu, Amdatara mendorong agar pemerintah berperan menjadi penyangga alias shock absorber dengan memberikan relaksasi kebijakan sebesar 20% hingga 30% pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi.

Pihaknya juga mengusulkan penurunan sementara pajak pertambahan nilai (PPN) kemasan dari 11% menjadi 8%, relaksasi bea masuk antidumping (BMAD), serta stimulus pajak penghasilan bagi pelaku usaha, khususnya segmen UMKM.

"Insentif yang diminta bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, dan pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga," pungkas Karyanto.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Umum Perkumpulan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Firman Sukirman. Menurutnya, tekanan utama berasal dari dua komponen utama bahan baku plastik, yakni harga minyak dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing.

Pihaknya melihat bahwa kondisi tersebut membuat harga bahan baku melonjak signifikan dalam waktu singkat. Kenaikan dinilai tidak lagi berada di level moderat, melainkan sudah melampaui ambang batas yang bisa ditutup melalui efisiensi internal industri.

"Dengan naiknya harga minyak ini tentu berdampak terhadap harga beli daripada bahan baku itu sendiri jadi sangat mahal dan itu bisa naik di atas 36%, bahkan ada di atas 70% untuk saat ini," kata Firman.

Tidak hanya kenaikan harga, dia menyebut, industri juga menghadapi gangguan pasokan yang mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Kelangkaan bahan baku dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi, terutama bagi pelaku usaha skala UMKM.

Firman memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlanjut tanpa intervensi yang memadai, dalam 2 bulan ke depan sebagian pelaku industri AMDK kecil dan menengah berpotensi menghentikan produksi akibat tidak tersedianya material kemasan.

"Bisa jadi 2 bulan ke depan itu ada beberapa industri AMDK dan UMKM itu tidak bisa produksi karena tidak dapat bahan baku," katanya.

Sejauh ini, dia menyebut, biaya produksi yang membengkak tersebut membuat pengusaha mengambil keputusan mengerek naik harga jual. Firman mengakui bahwa ruang efisiensi internal sudah tidak cukup untuk menahan lonjakan biaya yang terjadi saat ini.

Menurutnya, kenaikan harga penjualan produk AMDK di tingkat ritel tercatat pada kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 per karton. Tekanan harga tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian pasokan bahan baku.

Firman menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pada harga, melainkan ketersediaan bahan baku itu sendiri. "Kalau semakin langka bisa semakin naik. Karena fluktuasi barang sekarang naik terus. Ini yang jadi masalah, bahan bakunya apakah tersedia atau tidak," pungkasnya.

Berita Terbaru