Program Air Berkah, BI Targetkan 200 Pesantren Produksi Air Minum Kemasan

JATIMPEDIA, Surabaya - Bank Indonesia (BI) terus memacu motor penggerak ekonomi syariah di level akar rumput. Kali ini, bank sentral membidik sektor industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sebagai strategi baru untuk membangun gurita bisnis dan kemandirian finansial di lingkungan pondok pesantren melalui program bertajuk "Air Berkah Indonesia".

Lewat program unggulan ini, BI menargetkan sedikitnya 200 pondok pesantren di Tanah Air mampu membangun, mengemas, dan mengelola lini bisnis AMDK berbasis sumber daya lokal secara mandiri.

Gubernur BI Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa program ini merupakan langkah ekspansi dari cetak biru (blueprint) pemberdayaan ekonomi pesantren yang selama ini telah dibina oleh BI.

"Sekarang ada 36.000 pesantren di Indonesia. Yang sudah kami bina dan berhasil mandiri secara ekonomi ada sekitar 1.500 pondok pesantren. Salah satu sektor yang paling sukses adalah bisnis air minum dalam kemasan," ujar Perry, dikutip Selasa (23/6/2026).

Perry menjelaskan, ekosistem bisnis ini sangat menjanjikan karena memanfaatkan sumber air lokal yang diolah dengan teknologi modern. "Dibor, dicari yang pH-nya bagus, kemudian dibotoli. Ini akan memajukan dan menciptakan kemandirian pondok pesantren," tambahnya.

Dari kacamata bisnis, industri AMDK di lingkungan pesantren memiliki captive market (pasar tawanan) yang sangat kuat dan efisien. Di tahap awal, unit usaha ini dapat langsung memotong biaya pengeluaran internal pesantren yang sering kali memiliki ribuan santri.

"Minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik pesantrennya. Jika ada 2.000 santri, mereka tidak perlu beli air minum lagi. Bahkan, surplus produksinya bisa langsung dijual ke masyarakat sekitar dan toko-toko retail," jelas Perry.

Guna memuluskan target 200 pesantren tersebut, BI tidak hanya memberikan stimulus fisik, melainkan paket lengkap Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang mencakup pelatihan manajemen kewirausahaan, pendampingan praktik produksi dan standar higienis, serta akses perluasan pasar dan pengembangan bisnis jangka panjang.

Sektor AMDK pesantren bukan lagi sekadar wacana. Di lapangan, beberapa pesantren besar di Jawa Timur telah membuktikan bahwa merek air minum racikan santri mampu bersaing dengan raksasa retail nasional. Beberapa merek lokal yang sukses mencuri perhatian pasar antara lain Santri yang merupakan produk Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri, Pasuruan. Ada juga Kesian, besutan Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Ada juga Aidrat yang diproduksi Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendukung penuh langkah BI. Ia menegaskan bahwa peran pesantren di era modern telah berevolusi jauh. Pesantren tidak hanya menjadi episentrum penempaan akhlak dan ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga telah bertransformasi menjadi simpul utama penggerak ekonomi umat.

"Bagi seluruh santri dan pejuang ekonomi pesantren di tanah air, ketahuilah bahwa kemandirian ekonomi adalah bagian dari jihad demi membangun peradaban yang bermartabat," tegas Menag Nasaruddin.

Nasaruddin optimistis, dengan modal sosial yang masif, akar rumput yang kuat, serta adaptasi terhadap transformasi digital, penetrasi produk-produk halal berbasis pesantren ini akan mampu menjadi batu loncatan besar bagi pertumbuhan ekonomi syariah nasional di masa depan.

Berita Terbaru