JATIMPEDIA, Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memprediksi harga emas global berpotensi terus meningkat seiring memanasnya konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah. Hal ini karena emas dinilai tetap menjadi instrumen investasi aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
Sekretaris Perusahaan Antam, Wisnu Danandi Haryanto, menjelaskan bahwa secara historis, ketegangan geopolitik dan peperangan selalu menjadi katalis signifikan bagi pergerakan harga komoditas, termasuk emas.
Menurut dia, selama konflik masih berlangsung, tren kenaikan harga emas global berpotensi berlanjut. "Karena itu memang sekarang ini kita bisa melihat harganya sedang naik, dan kemungkinan akan terus naik selama perang itu masih ada, karena bagaimanapun namanya perang itu pasti akan memengaruhi harga-harga komoditas," katanya, dikutip Jumat (6/3/2025).
Meski demikian, Wisnu menyampaikan tidak dapat memastikan seberapa signifikan konflik global akan memengaruhi harga emas di dalam negeri ke depan.
Sementara itu, dari sisi produksi, Antam memastikan terus mengoptimalkan produksi dan pasokan bahan baku dari sumber domestik. "Karena kita selalu mencari dari sumber domestik untuk memenuhi kebutuhan emas di dalam negeri," ujarnya.
Antam juga berupaya memastikan ketersediaan stok emas bagi konsumen di tengah tingginya permintaan. Wisnu menyebut perusahaan sedang dalam proses meningkatkan produksi dan memperbanyak pasokan bahan baku agar setiap permintaan dapat terpenuhi.
"Kami saat ini memang dalam proses untuk memastikan bahwa produksi bisa selalu ditingkatkan, bahan baku bisa segera kita dapatkan lebih banyak lagi untuk memastikan bahwa nanti setiap saat ada konsumen yang mau membeli emas, emas itu ada. Itu yang kita saat ini coba lakukan," katanya.
Terkait layanan emas digital melalui Brangkas Logam Mulia, Wisnu menegaskan bahwa setiap pembelian emas dilakukan dengan skema satu banding satu. Artinya, emas fisik disiapkan sesuai jumlah yang dibeli konsumen. "Apapun yang konsumen beli di brangkas itu kita selalu menyiapkan," ujarnya.
Menurut dia, skema tersebut menjadi bentuk komitmen Antam dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap keamanan penyimpanan emas. "Itu caranya kita bisa memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa emas mereka aman jika disimpan di Antam. Karena kita selalu satu banding satu," katanya.
Sebelumnya, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan, investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset safe haven seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), dan obligasi pemerintah AS. Pengalihan dana investasi itu dilakukan seiring meningkatnya tensi konflik antara Iran dengan AS dan Israel yang menyebabkan investor mengurangi eksposurnya dari pasar saham, utamanya emerging markets termasuk Indonesia.
"Di domestik, investor akan selektif ke saham energi atau komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak," ujar Reydi.
Sejauh ini, Reydi melihat konflik antara ketiga negara tersebut dampaknya cenderung bersifat jangka pendek dan berbasis sentimen. Apabila konflik tidak meluas dan tidak mengganggu pasokan energi global secara signifikan, menurutnya, pasar biasanya cepat berkonsolidasi dan rebound (berbalik menguat).
"Namun bila eskalasi membesar, efeknya bisa lebih dalam dan berkepanjangan," ujar Reydi.
Bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ia menyebut dampaknya cenderung negatif untuk jangka pendek karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets, bersamaan dengan tertekannya rupiah dan meningkatnya volatilitas. "Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi," ujar Reydi.
Sementara itu, untuk sentimen pada pekan ini selain konflik geopolitik, Reydi menyebut pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan harga minyak, data inflasi, serta arus dana asing. "Faktor teknikal IHSG juga penting karena posisi indeks menentukan apakah koreksi ini hanya pullback sehat atau awal tekanan lanjutan," ujar Reydi.
Editor : Rizky
URL : https://jatimpedia.id/news-15174-antam-konflik-timur-tengah-bakal-kerek-harga-emas