JATIMPEDIA, Jakarta – Pelemahan penjualan mobil nasional sepanjang 2025 mencerminkan perubahan struktural pada daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar kendaraan entry level di Indonesia. Tekanan inflasi, suku bunga tinggi, serta kenaikan biaya hidup membuat keputusan pembelian mobil kian tertunda, meski berbagai insentif kendaraan listrik terus digulirkan pemerintah.
Dikutip dari KabarBursa.com, pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai anjloknya penjualan mobil sangat erat kaitannya dengan menyusutnya daya beli kelas menengah. Menurutnya, saat harga kebutuhan pokok meningkat dan suku bunga acuan masih tinggi, banyak keluarga kelas menengah terpaksa mengalihkan anggaran dari pembelian barang tahan lama seperti mobil ke kebutuhan primer dan dana darurat.
Data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia menyusut 16,6 persen, dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Kondisi ini berdampak langsung pada industri otomotif, mengingat sekitar 80 persen pembelian mobil nasional masih mengandalkan pembiayaan kredit. Ketika suku bunga tinggi, beban cicilan kendaraan menjadi semakin berat bagi konsumen.
Tekanan paling besar dirasakan segmen entry level. Yannes mencatat penjualan Low Cost Green Car (LCGC) turun hingga 28,7 persen secara tahunan. Kenaikan harga LCGC yang kini berada di kisaran Rp138–200 juta, jauh dari harga awal sekitar Rp80 juta pada 2013, membuat segmen ini kehilangan daya tarik bagi konsumen berpenghasilan menengah.
Padahal secara struktur pasar, kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih mendominasi penjualan mobil nasional. Data GAIKINDO menunjukkan pada 2024, penjualan mobil ICE mencapai 762.495 unit dari total wholesales 865.723 unit. Sementara itu, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) baru menyentuh 43.188 unit atau sekitar 4,99 persen dari total pasar, menandakan bahwa kendaraan konvensional, khususnya entry level, masih menjadi penopang utama industri.
Di sisi lain, pergeseran teknologi turut menambah tekanan pasar. Masuknya EV murah asal Tiongkok, depresiasi nilai tukar rupiah yang mendorong kenaikan biaya komponen impor, serta ketidakpastian kebijakan fiskal membuat konsumen cenderung bersikap menunggu. Beban biaya kepemilikan kendaraan juga semakin berat akibat kombinasi harga BBM, pajak kendaraan bermotor, opsen pajak daerah, biaya perawatan, suku cadang, hingga bunga kredit.
GAIKINDO mencatat total wholesales mobil nasional pada 2024 mencapai 865.723 unit. Namun pada periode Januari–November 2025, penjualan turun 9,6 persen menjadi 710.084 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini mempertegas bahwa pelemahan pasar bukan semata akibat transisi teknologi, melainkan juga terkait erat dengan daya beli dan struktur pembiayaan konsumen.
Dalam konteks tersebut, Yannes menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan segmen entry level agar ekosistem industri otomotif tetap bertahan di tengah agenda transisi menuju kendaraan listrik. Menurutnya, pemulihan daya beli kelas menengah melalui relaksasi kredit dan pengendalian inflasi menjadi kunci agar ambisi industrialisasi EV dapat berjalan selaras dengan realitas kemampuan pasar, tanpa mengorbankan volume penjualan kendaraan konvensional yang masih menjadi tulang punggung industri otomotif nasional.
Editor : Taufiq