JATIMPEDIA, Surabaya - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah lokasi kegiatan eksplorasi dan produksi.
Vice President Dukungan Bisnis SKK Migas, Maria Kristanti, mengatakan keberadaan industri hulu migas tidak hanya berkontribusi pada penerimaan negara, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah melalui belanja dan kontrak yang melibatkan pelaku usaha lokal.
“Industri hulu migas memiliki multiplier effect yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah kegiatan eksplorasi,” ujar Maria dalam media briefing yang digelar SKK Migas di Hotel Premier Sidoarjo, Selasa (23/12).
Berdasarkan data SKK Migas, secara nasional nilai kontrak industri hulu migas sepanjang 2020 hingga 2025 mencapai Rp 733 triliun. Dalam periode yang sama, realisasi belanja hulu migas juga tercatat signifikan, dengan porsi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 59 persen.
“Dari total belanja tersebut, 59 persen merupakan TKDN,” kata Maria.
Untuk wilayah kerja SKK Migas Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa), khususnya di Jawa Timur, kontribusi TKDN juga tercatat cukup besar. Nilai kontrak TKDN yang diberikan kepada UMKM dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Timur mencapai sekitar Rp 9 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja industri hulu migas di Jawa Timur sejak 2020 hingga November 2025 tercatat mencapai Rp 53 triliun.
Maria menjelaskan, keterlibatan UMKM Jawa Timur dalam pemenuhan TKDN mencakup berbagai sektor. Di antaranya, industri kecil dan menengah mencapai 53 persen, layanan klinik dan kegiatan medis sebesar 91 persen, sektor penunjang migas 71 persen, serta hotel dan restoran sebesar 88 persen.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa industri hulu migas memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM dan memperkuat perekonomian daerah melalui optimalisasi penggunaan produk dan jasa dalam negeri.
Editor : Rizky