JATIMPEDIA, Surabaya - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur, Ibrahim, memaparkan tingkat inflasi nasional juga masih terkendali pada rentang sasaran 2,5 ± 1 persen. Jawa Timur Berperan Besar pada Ekonomi Nasional.
Jawa Timur berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Porsinya mencapai 14,54 persen. Bahkan untuk skala Pulau Jawa, ekonomi Jatim lebih dari seperempat.
"Karena itu, Jawa Timur sering menjadi lokasi pilot project berbagai program kementerian, didukung infrastruktur dan ekosistem pendukung yang relatif lengkap," kata dia.
Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 60,78 persen.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan investasi.
“Target ideal pangsa investasi adalah di atas 30 persen untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara dari sisi penawaran, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa mencapai 31,24 persen, disusul perdagangan, pertanian, dan konstruksi.
Lima lapangan usaha terbesar menyumbang sekitar 75 persen ekonomi Jatim.
Saat ini inflasi Jawa Timur tercatat 2,69 persen (yoy), lebih rendah dari nasional yang berada di level 2,86 persen.
Sementara itu perkembangan ekonomi global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat berbagai dinamika internasional.
Mulai dari tensi geopolitik Rusia, pemilihan Presiden Amerika Serikat, hingga kebijakan retaliasi tarif impor yang terus berubah.
Menurutnya, salah satu perubahan signifikan terlihat pada tarif dagang Amerika Serikat terhadap Indonesia.
"Perkembangan terkini tarif di Amerika terhadap Indonesia sudah menurun dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini berkat negosiasi pemerintah. Namun, ketidakpastian ekonomi AS masih tinggi," jelasnya dalam High Level Meeting (HLM), Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) Provinsi Jawa Timur Tahun 2025, Selasa (25/11).
Ibrahim menjelaskan, menguatnya harga emas belakangan ini merupakan sinyal bahwa investor global masih mencari instrumen aman (safe haven).
Kondisi ini muncul karena investor belum sepenuhnya percaya menempatkan modal dalam surat berharga Amerika Serikat.
"Hal ini juga berdampak pada tekanan nilai tukar di banyak negara, termasuk Indonesia," kata Ibrahim.
Ia menekankan pentingnya mengantisipasi rambatan risiko global tersebut agar tidak memberi dampak signifikan terhadap ekonomi nasional maupun Jawa Timur..
Berdasarkan data yang dipaparkan, ekonomi dunia juga belum kembali ke fase pra-pandemi.
Pertumbuhan global yang dulu berada di kisaran 6,3 persen kini melambat dan diproyeksikan stagnan di sekitar 3,1 persen.
Sementara itu, suku bunga The Fed yang masih tinggi membuat arus modal global tetap bergerak hati-hati dan memberi tekanan pada nilai tukar berbagai negara.
Editor : Rizky
URL : https://jatimpedia.id/news-13408-bi-inflasi-jatim-terkendali-269-persen