Antam Bakal Rambah Bisnis Perhiasan Emas

JATIMPEDIA, Jakarta -  PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tengah mengembangkan lini perhiasan emas. Hal ini dilakukan sejalan dengan strategi diversifikasi bisnis perusahaan dan upaya memperluas rantai nilai logam mulia.

Corporate Secretary Antam adalah Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, inisiatif ini merupakan bagian dari langkah perusahaan untuk memperkuat posisi di sektor hilir. "Tidak hanya sebagai produsen dan pemurni emas, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam industri perhiasan nasional," ucap Wisnu, dikutip Selasa (28/10/2025).

Meski demikian, dia belum bisa membocorkan kapan unit bisnis baru tersebut bakal diluncurkan. Secara bertahap, kata Wisnu, Antam saat ini melakukan penjajakan kemitraan strategis dengan beberapa pelaku industri dan desainer lokal.

Menurutnya, langkah tersebut diambil agar produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai estetika tinggi, tetapi juga memenuhi standar kualitas internasional. Wisnu menambahkan bahwa melalui langkah ini, Antam berharap dapat menghadirkan produk perhiasan emas dengan identitas khas Indonesia.

"Sekaligus membuka peluang pasar baru, meningkatkan nilai tambah dari hasil produksi emas domestik, dan memperkuat peran Antam dalam mendorong tumbuhnya ekosistem logam mulia di dalam negeri," katanya.

Di sisi lain, permasalahan pasokan emas Antam masih menjadi sorotan. Pasalnya, perusahaan pelat merah itu masih mengimpor 30 ton emas per tahun untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Achmad Ardianto menuturkan, impor itu dilakukan lantaran produksi perseroan belum mencukupi.

Dia menyebut, saat ini emas yang diproduksi atau ditambang oleh Antam hanya mencapai 1 ton per tahun. Padahal, kebutuhan emas di dalam negeri tahun ini diperkirakan mencapai 45 ton. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi penjualan emas Antam pada 2024 yang sebesar 37 ton.

Achmad menjelaskan, potensi produksi emas di Indonesia sebenarnya dapat mencapai 90 ton per tahun. Namun, banyak perusahaan tambang yang memilih ekspor atau menjual ke perusahaan perhiasan alih-alih ke Antam. Oleh karena itu, impor tak terhindarkan.

"Mungkin 30-an ton [impor], padahal produksi dalam negeri kita 90 ton. [Perusahaan tambang emas] ada yang sebagian dijual ke perusahaan perhiasan dan ada juga yang diekspor," tuturnya.

Adapun, emas yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menurut Achmad, juga tak sembarangan. Antam melakukan impor dari perusahaan dan lembaga yang terafiliasi dengan London Bullion Market Association (LBMA).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga tengah mengkaji untuk menerapkan skema kewajiban pasok dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) emas. Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, penerapan skema DMO perlu dikaji secara mendalam mengenai efeknya secara jangka panjang.

Terlebih, Antam sudah memiliki kerja sama jual beli emas dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) sekitar 25 ton sampai 30 ton emas per tahun. Memang saat ini pasokan emas dari Freeport belum optimal lantaran adanya beberapa permasalahan yang dialami smelter Freeport.

Belum lagi, insiden luncuran material basah di tambang bawah tanah Freeport pada awal September 2025 lalu membuat operasional smelter terhenti sementara.

"Cuma kalau seandainya ada DMO, nanti kalau sana [smelter Freeport]-nya beroperasi seperti apa? Jangan sampai malah numpuk," ujar Tri.

Di sisi lain, Tri juga akan meninjau dari sisi perpajakan ekspor-impor emas, serta menimbang opsi mana yang lebih menguntungkan. "Itu juga sedang kita ini [kaji], saya belum tahu komposisinya seperti apa antara beli di dalam negeri sama impor," katanya. 

Berita Terbaru