HCML Proyeksikan Pemboran Sumur MDK Mulai Akhir 2026

JATIMPEDIA, Surabaya - Perusahaan KKKS Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) memperkirakan pemboran sumur MDK bakal mulai dilakukan di akhir tahun 2026 atau di awal tahun 2027.

"Tahun ini (produksi red.) akan kami pertahankan. Mulai tahun depan akhir atau awal tahun 2027 akan berencana melakukan pemboran sumud MDK," ujar Manager Regional Office dan Relations HCML, Hamim Tohari, Selasa (30/9/2025).

Langkah tersebut sebagai wujud komitmen HCML untuk terus memastikan suplai gas di wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur terpenuhi. Sumur yang terletak di Selat Madura, dekat dengan wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur tersebut merupakan bagian dari pengembangan lapangan MDA-MBH yang dioperasikan oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan telah mulai berproduksi gas pada akhir tahun 2022.

Lebih lanjut Hamim mengungkapkan, saat ini produksi gas HCML dari tiga lapangan yang beroperasi mencapai 222 juta standar kaki kubik per hari (MMCFD) dan akan terus dipertahankan. Dengan pencapaian tersebut, HCML berhasil menjadi pemasok gas terbesar untuk wilayah Jawa Timur. "Produksi gas HCML terbesar di wilayah Jatim karena 50 persen hingga 60 persen suplai gas dalam negeri Jatim dari HCML," katanya.

Untuk saat ini, suplai gas dari HCML didistribusikan ke tiga kategori utama, sesuai dengan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yaitu pupuk, listrik dan industri. "Terserap di kategori itu, semua dimanfaatkan domestik. Dengan suplai tersebut, maka pupuk tetap tersedia. Bahkan saat covid pun tetap ada sehingga petani bisa terus mengolah pertanian mereka dengan baik," tukasnya.

Di sisi lain, HCML juga berupaya memberikan kemanfaatan kepada masyarakat di sekitar wilayah kerja melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) di berbagai sektor. Di sektor pendidikan, HCML telah memberikan beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa. "Bahkan beberapa penerima beasiswa sudah ada yang menjadi tenaga inti HCML," kata Hamim.

Tidak hanya berhenti di pendidikan, HCML juga gencar memberikan dukungan di sektor ekonomi dan UMKM. Karena di Madura Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan, maka program yang telah digulirkan adalah pelatihan perbaikan mesin ringan untuk kelompok nelayan. "Kami juga memberikan pendampingan kepada ibu-ibu nelayan bagaimana pengolah hasil laut," lanjutnya.

Selain itu, program PPM juga menyentuh pada pembangunan infrastruktur di daerah, khususnya di daerah wisata. Harapannya, melalui program tersebut akan tumbuh desa wisata mandiri.

"Kita benahi infrastrukturnya, sarana dan prasarananya, dengan harapan ada ruang tumbuh, sektor pariwisata tumbuh, sektor UMKM tumbuh seiring dengan pertumbuhan industri hulu migas," kata Hamim.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Jabanusa Febrian Ihsan mengatakan bahwa program PPM memang menjadi pendorong keberhasilan kinerja industri hulu migas.

Dan di semester I/2025 ini, realisasi program PPM di wilayah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah mencapai 50 persen hingga 60 persen. Ada empat pilar dalam program PPM, yaitu pendidikan, sosial, ekonomi dan kesehatan.

"Melalui PPM kami mendorong masyarakat untuk mandiri sehingga ketika lapangan migas tidak beroperasi lagi maka masyarakat bisa terus bertumbuh," pungkasnya.

Berita Terbaru