Harga Emas Diramal Tembus Rp 2,3 Juta Per Gram Akhir Tahun

JATIMPEDIA, Surabaya  - Harga emas diramal bakal menembus level Rp 2,3 juta per gram pada semester II tahun ini. Kenaikan tersebut dipengaruhi berbagai sentimen, mulai dari faktor data Amerika Serikat (AS) dan kebijakan Bank Sentral AS, perang dagang, hingga kondisi geopolitik.

Sementara itu harga emas batangan yang dipasarkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan pekan ini. Lonjakan harga ini menandai pencapaian baru, di mana harga emas Antam kembali mencapai rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Harga emas batangan bersertifikat di laman resmi Logam Mulia PT Aneka Tambang pada Selasa (30/9/2025) hari ini naik Rp 12.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.222.000 per gram menjadi Rp 2.234.000 per gram.

Di lain sisi, harga buyback oleh Logam Mulia juga naik Rp 12.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.069.000 per gram menjadi Rp 2.081.000 per gram.

Sedangkan dalam sepekan, harga emas dunia diperkirakan berada di kisaran support US$3.711 per troy ons hingga resistance US$3.814 per troy ons.

"Dalam semester II-2025 saya optimistis harga emas dunia bisa mencapai 3.850 dolar AS per troy ons dan logam mulia di Rp 2,3 juta per gram. Harga emas dunia di pasar internasional terbentuk berdasarkan analisa fundamental maupun teknikal, serta permintaan dan penawaran terhadap emas batangan," kata  Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi, Selasa (30/9/2025).

Ibrahim menjelaskan, sejumlah sentimen mengerek harga emas dunia. Pertama, data ekonomi AS dan kebijakan Federal Reserve. Laporan Departemen Perdagangan AS mengenai indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk Agustus menunjukkan inflasi bergerak sesuai harapan. Harga naik 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya dan 2,7 persen secara tahunan, sesuai perkiraan konsensus. Data juga mencatat pendapatan pribadi dan belanja konsumen tumbuh di atas ekspektasi.

PCE merupakan ukuran inflasi favorit The Fed. Pejabat bank sentral menyoroti dilema mengendalikan inflasi sekaligus menjaga lapangan kerja.

Beberapa pejabat, seperti Stephen Miran dan Michelle Bowman, cenderung dovish dan menganjurkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut karena pasar tenaga kerja rapuh. Sebaliknya, Jeffrey Schmid dari Fed Kansas City dan Austan Goolsbee dari Fed Chicago bersikap hawkish. Mereka menilai risiko inflasi tetap tinggi, sehingga kebijakan perlu berhati-hati.

"Meskipun demikian, pasar terus mengantisipasi penurunan suku bunga lagi pada Oktober," ujar Ibrahim.

Sentimen lain datang dari perang dagang. Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penerapan tarif baru terhadap sejumlah barang impor mulai 1 Oktober 2025, mencakup produk farmasi, truk besar, hingga furnitur dan perlengkapan renovasi rumah.

April lalu, Trump juga memicu kegelisahan global setelah mengumumkan penerapan tarif timbal balik hampir ke seluruh negara mitra dagang AS.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Eropa semakin memanas. Serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia memangkas ekspor bahan bakar negara tersebut. Rusia bahkan akan memberlakukan larangan sebagian ekspor solar hingga akhir tahun serta memperpanjang larangan ekspor bensin yang sudah ada, menurut Wakil Perdana Menteri Alexander Novak.

Penurunan kapasitas penyulingan membuat beberapa wilayah Rusia mengalami kekurangan bahan bakar tertentu. Sementara itu, AS terus menekan sekutunya agar mengurangi impor dari Rusia. NATO juga mengeluarkan peringatan terkait potensi respons terhadap pelanggaran lebih lanjut di wilayah udara negara anggota.

"Ketegangan akibat perang Ukraina dan ancaman sanksi tambahan terhadap industri minyak Rusia semakin memperkuat prospek kenaikan harga emas," kata Ibrahim.

Dengan adanya berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia dan logam mulia domestik akan terus menguat hingga akhir 2025. (cin)

Berita Terbaru