MotoGP Mandalika Hasilkan Dampak Ekonomi Rp5,2 Triliun, Libatkan 3.000 Pekerja Lokal

JATIMPEDIA, Mandalika - Penyelenggaraan MotoGP Mandalika memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak hanya menjadi ajang olahraga internasional, balapan tersebut juga mendorong perputaran ekonomi senilai Rp5,2 triliun melalui berbagai sektor, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, Maya Watono, mengatakan dampak ekonomi MotoGP Mandalika jauh melampaui aktivitas balapan yang berlangsung selama tiga hari. Kehadiran wisatawan, penyelenggaraan berbagai kegiatan pendukung, serta meningkatnya aktivitas usaha di sekitar sirkuit turut menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat.

"Untuk perhelatan sendiri, dampak ekonominya mencapai Rp5,2 triliun," ujar Maya, dikutip Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan, angka tersebut diperoleh berdasarkan kajian InJourney bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB), dengan dukungan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI).

Penghitungan dampak ekonomi mencakup kontribusi langsung, tidak langsung, hingga efek pengganda (multiplier effect) dari penyelenggaraan MotoGP dan aktivitas belanja wisatawan.

Perputaran ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari pengeluaran pengunjung untuk akomodasi, makanan, dan transportasi. Aktivitas itu juga meningkatkan permintaan terhadap produk dan jasa lokal, menggerakkan rantai pasok, serta menambah pendapatan pedagang dan pekerja di kawasan Mandalika.

Pendapatan yang diterima masyarakat kemudian kembali berputar melalui konsumsi rumah tangga sehingga menciptakan aktivitas ekonomi lanjutan di daerah.

Selain kontribusi finansial, penyelenggaraan MotoGP Mandalika juga membawa perubahan dalam penyerapan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal. Selama lima tahun penyelenggaraan, keterlibatan masyarakat NTB dalam operasional ajang balap internasional tersebut terus meningkat.

Maya mengungkapkan, pada awal penyelenggaraan, sejumlah pekerjaan teknis masih membutuhkan tenaga ahli dari luar negeri. Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah seiring meningkatnya kemampuan sumber daya manusia lokal.

Pada penyelenggaraan terakhir, sekitar 3.000 pekerja yang terlibat seluruhnya berasal dari NTB.

"Kalau kita lihat perhelatan terakhir kemarin, sebanyak 3.000 pekerja lokal semuanya berasal dari NTB," tegas Maya.

Bahkan, pengalaman yang diperoleh selama bekerja di Mandalika membuka peluang bagi sebagian tenaga kerja lokal untuk mengembangkan karier di ajang MotoGP negara lain, seperti Australia, Jepang, dan Malaysia.

Menurut Maya, keterlibatan dalam penyelenggaraan olahraga internasional memberikan manfaat lebih dari sekadar tambahan penghasilan. Para pekerja juga mendapatkan keterampilan, pengalaman, dan standar kerja internasional yang dapat menjadi bekal untuk bersaing di industri pariwisata maupun penyelenggaraan acara berskala global.

Manfaat ekonomi MotoGP juga dirasakan oleh masyarakat dengan beragam latar belakang pekerjaan. Petani, misalnya, memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tambahan dengan bekerja di kawasan sirkuit saat akhir pekan. Sementara itu, ibu rumah tangga dapat terlibat sebagai marshal dalam penyelenggaraan balapan.

Pelaku UMKM turut merasakan peningkatan pendapatan selama musim MotoGP. Bahkan, sejumlah pedagang mengaku penghasilan yang diperoleh selama satu musim balapan dapat menopang kebutuhan hidup mereka hingga beberapa bulan berikutnya.

Pertumbuhan aktivitas wisata juga mendorong bermunculannya usaha baru di sekitar kawasan Kuta Mandalika. Restoran, vila, serta berbagai penyedia jasa akomodasi mulai berkembang seiring meningkatnya kebutuhan wisatawan.

Meski demikian, InJourney menyadari bahwa keberlanjutan ekonomi Mandalika tidak bisa hanya bergantung pada penyelenggaraan MotoGP yang berlangsung sekali dalam setahun. Diperlukan strategi untuk menjaga kawasan tetap produktif dan menarik wisatawan di luar periode balapan.

Untuk itu, InJourney melalui InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus mengembangkan Mandalika sebagai destinasi sports entertainment. Salah satu langkahnya adalah memperluas pemanfaatan Sirkuit Mandalika melalui berbagai agenda olahraga dan kegiatan berskala nasional maupun internasional sepanjang tahun.

Maya menyebutkan, kalender kegiatan di sirkuit tersebut kini telah terisi sekitar 200 hari dalam setahun. Salah satu agenda yang mampu menarik kunjungan dalam jumlah besar adalah Pocari Sweat Run, yang mendatangkan sekitar 12.000 pelari beserta keluarga mereka ke NTB.

Melalui strategi tersebut, InJourney berharap kunjungan wisatawan tidak hanya terkonsentrasi pada musim MotoGP. Peningkatan jumlah kegiatan di Mandalika juga diharapkan dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan dan menjaga permintaan terhadap sektor perhotelan, restoran, transportasi, serta usaha masyarakat setempat.

Dampak pengembangan pariwisata dan penyelenggaraan berbagai acara internasional turut terlihat dalam perkembangan ekonomi NTB. Maya menyebut pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut mencapai 10,4 persen pada semester I-2026.

Dari sisi kesejahteraan masyarakat, tingkat kemiskinan NTB juga mengalami penurunan dari sekitar 14 persen pada 2022 menjadi 11 persen pada 2026. Dalam kurun waktu tersebut, sekitar 200.000 penduduk tercatat telah keluar dari garis kemiskinan.

Meski demikian, Maya menegaskan bahwa penurunan angka kemiskinan tidak semata-mata merupakan hasil penyelenggaraan MotoGP. Perubahan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi makro dan perkembangan aktivitas ekonomi daerah secara keseluruhan.

Bagi InJourney, keberhasilan pengembangan destinasi pariwisata tidak cukup diukur berdasarkan pendapatan maupun tingkat profitabilitas perusahaan. Lebih dari itu, keberhasilan harus tercermin dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan.

"Masyarakat di sekitar kawasan harus makmur. Di Borobudur harus makmur, di Mandalika juga harus makmur," tutur Maya.

Sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat tersebut, InJourney juga melanjutkan program pemberdayaan perempuan dan pelatihan bagi pelaku UMKM. Perusahaan turut menyiapkan peningkatan kualitas infrastruktur sirkuit, termasuk rencana pemasangan atap di seluruh tribun (grandstand) serta optimalisasi pengelolaan arus penonton.

Maya berharap MotoGP dapat terus diselenggarakan di Mandalika sehingga manfaat ekonomi, peningkatan kapasitas tenaga kerja, dan pengembangan pariwisata dapat berlangsung secara berkesinambungan.

"Pastinya kami berharap ajang ini terus berlanjut. Ini sangat baik untuk Mandalika, masyarakat Lombok, dan seluruh NTB," pungkasnya.

Editor : Rizky

Berita Terbaru