Ijen Lestari Indonesia Andalkan Hilirisasi Kopi

JATIMPEDIA,  Surabaya - PT Ijen Lestari Indonesia, perusahaan pengolah kopi asal Desa Ijen, Banyuwangi, berharap memperoleh dukungan pembiayaan melalui program business matching Java Cafee & Flaver Fest (JCFF), agar mampu memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah kopi yang dihasilkan petani.

 

 

Direktur PT Ijen Lestari Indonesia, Heri Ahmad Yulianto, menjelaskan bahwa perusahaannya mengelola rantai bisnis kopi secara terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pengolahan pascapanen. Menurutnya, perusahaan tidak hanya menanam kopi arabika, tetapi juga memproses buah kopi untuk membentuk karakter cita rasa sesuai kebutuhan pasar.

 

 

"Kami mengelola mulai dari penanaman kopi arabika sampai proses pengolahan di processing house. Di sana kami membentuk karakter kopi dari buah kopi sehingga menghasilkan cita rasa yang diinginkan pasar, baik honey, full wash, natural, maupun fermented," ujarnya dalam kegiatan Business Matching sebagau rangkaian JCFF di Surabaya, Jumat (17/7/2026).

 

 

Kemampuan pengolahan tersebut, lanjut Heri, telah mendapat pengakuan internasional. Salah satu kopi fermentasi yang diproduksi perusahaan berhasil meraih peringkat pertama pada ajang Cup of Excellence (CoE), kompetisi kopi bergengsi yang dikelola organisasi nirlaba asal Amerika Serikat. Produk kopi mereka memperoleh nilai 91,41 poin, menjadikannya kopi terbaik pada ajang tersebut.

 

 

"Kopi yang kami kelola menjadi juara satu di ajang Cup of Excellence dengan skor 91,41 poin. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kualitas proses yang kami lakukan sudah diakui dunia internasional," katanya.

 

 

Berbekal capaian tersebut, PT Ijen Lestari Indonesia kini berupaya memperluas pasar ekspor. Saat ini produk kopinya telah dipasarkan ke Jerman dan Australia. Selanjutnya perusahaan membidik pasar Timur Tengah, seperti Dubai dan Arab Saudi, serta Jepang, Singapura, Malaysia, Slovakia, dan Swiss melalui produk kopi sangrai (roasted bean) yang telah dikirim sebagai sampel.

 

 

"Kami berharap melalui business matching ini ada kontribusi dari perbankan maupun lembaga keuangan yang dapat mendukung pembiayaan, sehingga kami bisa mengembangkan usaha dan mengekspor produk ke lebih banyak negara," tutur Heri.

 

 

Dalam menjalankan usahanya, PT Ijen Lestari Indonesia juga menggandeng satu desa di kawasan Gunung Ijen sebagai mitra binaan. Ratusan petani kopi terlibat dalam rantai pasok perusahaan, sehingga peningkatan kapasitas usaha dinilai akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan mereka.

 

 

Menurut Heri, perusahaan berupaya mengubah pola penjualan kopi petani yang selama ini hanya menjual buah kopi (cherry) menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi melalui proses pascapanen.

 

 

"Selama ini petani hanya menjual cherry atau buah kopi yang baru dipetik. Kami mencoba mengolahnya agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga pendapatan petani juga meningkat," jelasnya.

 

 

Heri mengatakan, partisipasi dalam skema pembiayaan business matching menjadi pengalaman pertama bagi perusahaan. Ia juga mulai mempelajari berbagai alternatif pendanaan, termasuk yang ditawarkan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), untuk mendukung perluasan areal tanam dan peningkatan kapasitas produksi setiap tahun.

 

 

Meski demikian, ia menilai masih banyak petani yang belum mampu mengakses pembiayaan perbankan. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan agunan serta belum tertatanya administrasi dan laporan keuangan yang menjadi persyaratan lembaga keuangan.

 

 

"Petani masih terkendala agunan. Selama ini bank meminta jaminan seperti sertifikat, sementara banyak petani tidak memilikinya. Selain itu, mereka juga belum memiliki pembukuan dan laporan keuangan yang menjadi syarat perbankan. Karena itu, sampai sekarang sebagian besar masih mengandalkan pembiayaan secara mandiri," pungkasnya.

Berita Terbaru