JATIMPEDIA, Gresik - Bagi banyak mahasiswa pertanian, ruang kelas menjadi tempat menimba ilmu. Namun bagi para peserta Wirakarya Taruna Makmur Batch IX, pembelajaran sesungguhnya juga hadir di tengah hamparan sawah, berdialog langsung dengan petani, dan menyaksikan bagaimana setiap keputusan budidaya berdampak pada hasil panen.
Kesempatan itu diberikan Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, melalui Program Wirakarya Taruna Makmur Batch IX. Sebanyak 50 mahasiswa dari berbagai Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik LPP Yogyakarta diterjunkan untuk menjalani magang lapangan selama enam bulan di sejumlah wilayah kerja perusahaan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali.
Program ini tidak hanya menjadi wadah praktik bagi mahasiswa, tetapi juga sarana membentuk generasi agronomis muda yang siap mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan swasembada pangan nasional.
Salah satu peserta, Olivian Rizky, mengaku antusias dapat menjadi bagian dari Taruna Makmur. Menurutnya, program tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus belajar langsung dari para petani.
"Terima kasih kepada Petrokimia Gresik yang telah menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk belajar dan terjun ke masyarakat guna membangun pertanian Indonesia menjadi lebih baik. Semoga program ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu dan menghadirkan aksi nyata bagi pertanian sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas," ujarnya.
Bagi Olivian, pengalaman berada di lapangan akan menjadi bekal penting untuk memahami tantangan pertanian secara nyata. Mulai dari proses budidaya, komunikasi dengan petani, hingga pentingnya kolaborasi dalam meningkatkan hasil pertanian menjadi pembelajaran yang tidak selalu didapatkan di ruang kuliah.
Sebelum diterjunkan ke wilayah penugasan, seluruh peserta mendapatkan pembekalan mengenai budidaya pertanian berkelanjutan, teknik komunikasi efektif, pengembangan personal branding, serta pemanfaatan teknologi pertanian terkini. Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peserta dalam mendampingi petani secara profesional.
Selama enam bulan penugasan, para Taruna Makmur akan mendukung pelaksanaan Program Agrosolution Petrokimia Gresik. Mereka akan melakukan sosialisasi kepada petani, mengawal penerapan pemupukan berimbang, mendampingi kegiatan budidaya, membantu koordinasi dengan para pemangku kepentingan, hingga mengawal pelaksanaan demplot dan administrasi program.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. Sejak diinisiasi pada 2022, Program Taruna Makmur telah melahirkan 423 agronomis muda.
"Keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Melalui Taruna Makmur, kami ingin menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi agronomi, kemampuan komunikasi, dan pengalaman lapangan sehingga mampu menjadi pendamping petani sekaligus agen perubahan di sektor pertanian," ujar Adit, sapaan akrab Adityo Wibowo.
Menurutnya, regenerasi petani menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi sektor pertanian Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, petani, dan dunia usaha perlu terus diperkuat agar mampu membangun ekosistem pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Melalui pengalaman langsung di lapangan, para peserta diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi lulusan yang siap bekerja, tetapi juga menjadi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan sektor pertanian Indonesia.
Bagi mereka, Taruna Makmur bukan sekadar program magang, melainkan perjalanan belajar yang mempertemukan ilmu, pengalaman, dan semangat untuk berkontribusi bagi ketahanan pangan nasional
Editor : Taufiq