PropNex Indonesia Optimis Sektor Properti Masih Prospek

JATIMPEDIA, Surabaya - Di tengah ketidakpastian geopolitik global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah, sektor properti Indonesia dinilai masih memiliki prospek yang positif.

Hal ini disampaikan CEO PropNex Indonesia, Luckyanto dalam ajang PropNex Indonesia Annual Convention 2026 dengan tema "The Blue Diamond Gala" di Surabaya, Rabu (8/4/2026).

Menurut Luckyanto, meningkatnya kepercayaan konsumen serta dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga optimisme pasar properti nasional. Tahun 2026 pun diproyeksikan sebagai momen penting bagi pertumbuhan industri ini.

"Awal tahun sebenarnya pasar menunjukkan tren naik. Namun dengan adanya konflik di Timur Tengah, segmen high-end mulai terdampak," ujarnya.

Meski demikian, kondisi tersebut justru membuka peluang baru. Luckyanto menjelaskan bahwa sejumlah konsumen kelas menengah atas mulai melakukan likuidasi aset properti mereka. Akibatnya, banyak properti dijual di bawah harga pasar, khususnya untuk segmen high-end dengan nilai di atas Rp 10 miliar.

Sebagai contoh, di kawasan Surabaya Barat, harga pasar properti berada di kisaran Rp25 juta per meter persegi, namun kini ada yang dilepas di harga Rp22 juta per meter persegi. Fenomena ini telah berlangsung dalam 2-3 bulan terakhir.

"Ini justru menjadi opportunity. Saatnya membeli karena banyak aset dijual di bawah harga pasar. Tinggal pintar melihat timing untuk mendapatkan harga terbaik," jelasnya.

Ia bahkan memprediksi kondisi semester pertama 2026 akan menyerupai masa awal pandemi Covid-19, di mana pasar sempat stagnan namun diikuti penyesuaian, termasuk penurunan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Saat ini, bunga KPR di Indonesia bahkan sudah mencapai sekitar 1,69 persen, lebih rendah dibandingkan Singapura yang berada di kisaran 1,8 persen.

Sepanjang tahun 2025 lalu, PropNex Indonesia mencatatkan transaksi penjualan sebesar Rp2,4 triliun hingga Rp2,5 triliun, tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Segmen secondary market mendominasi dengan kontribusi 70 persen. Sementara itu, sektor industrial mencatat pertumbuhan signifikan hingga 30 persen, dengan banyak pembeli berasal dari China. Untuk segmen residensial, kontribusinya mencapai 40 persen, dengan penjualan terbanyak di kisaran harga di bawah Rp5 miliar.

Pada 2026, ujar Luckyanto, pasar secondary diprediksi akan semakin meningkat, mengingat banyak developer yang masih menahan peluncuran proyek baru di tengah ketidakstabilan ekonomi.

Merujuk pada laporan IMARC Group, pasar properti Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan. Nilainya tercatat telah mencapai lebih dari US$100 miliar pada 2025 dan diproyeksikan terus berkembang hingga melampaui US$150 miliar dalam dekade mendatang.

Sementara menurut laporan detik.com, 61% pelaku industri memproyeksikan bahwa investasi di sektor properti akan terus mengalami pertumbuhan. Beberapa Sektor seperti industri, logistik, dan pergudangan diprediksi akan menjadi motor pertumbuhan baru. Menurut IMARC Group, Ini didorong oleh faktor urbanisasi, infrastruktur, dan pertumbuhan kelas menengah. Di tahun 2026 ini, pasar tidak hanya pulih, tetapi berevolusi menuju fase pertumbuhan yang lebih matang dan berkelanjutan.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, PropNex Indonesia berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan sektor properti nasional. "Memasuki 10 tahun sejak didirikan pada Maret 2016, perjalanan ini tentu tidak akan mudah. PropNex Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama dalam menggeser pola pikir industri yang sebelumnya masih bersifat konvensional menuju pendekatan yang lebih modern melalui pemanfaatan teknologi, pengambilan keputusan berbasis data, serta penerapan standar profesionalisme dan transparansi yang lebih baik," tutur Luckyanto.

Luckyanto juga menyoroti dukungan dari CEO PropNex Singapura, Kelvin Fong yang dinilai memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kinerja perusahaan melalui berbagai pelatihan untuk peningkatan kualitas SDM dan teknologi.

"Dengan integrasi sistem berbasis AI dan dukungan penuh dari PropNex Singapura, kami bisa bergerak lebih cepat dan energik," katanya.

Dengan adanya sistem teknologi informasi yang telah dikembangkan di Singapura sejak tahun 2000, PropNex Indonesia berhasil mengedukasi ribuan agen menjadi lebih profesional dan berbasis sistem, mempercepat proses pemasaran dan transaksi, serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap layanan broker properti. Transformasi ini menunjukkan bahwa perubahan pola pikir dalam industri dapat diwujudkan melalui pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan.

PropNex Indonesia bahkan menjadi agen properti pertama di Indonesia yang memiliki sistem IT terintegrasi, menjadikannya sebagai tolok ukur bagi agen properti lainnya yang sebelumnya masih berbasis konvensional sekaligus menghadirkan standar baru di industri properti nasional.

Ke depan, lanjut Luckyanto, PropNex Indonesia akan gencar melakukan ekspansi dengan konsep kemitraan dan pembukaan franchise. Perusahaan menargetkan pembukaan lima cabang baru di Jakarta.

Saat ini, PropNex telah memiliki tujuh kantor di Surabaya dan total 15 kantor cabang di seluruh Indonesia, dengan jumlah agen hampir mencapai 2.000 orang.

"Fokus kami bukan hanya ekspansi, tetapi juga mengejar kualitas. SDM yang unggul akan menjadi kunci dalam memenangkan persaingan di industri ini. Dengan fundamental pasar yang kuat, pertumbuhan demand yang konsisten, serta transformasi industri yang semakin modern, kami yakin tahun 2026 menjadi tahun yang luar biasa bagi sektor properti Indonesia," ujarnya.

Berita Terbaru