JATIMPEDIA, Surabaya - Potensi penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan memicu lonjakan biaya logistik global. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dan komoditas dunia.
Widyaswendra, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, mengatakan eskalasi konflik telah membuat banyak jalur pelayaran utama, termasuk Selat Hormuz, menjadi sangat riskan bahkan berpotensi ditutup. Kondisi ini memaksa sejumlah perusahaan pelayaran mengalihkan rute.
“Banyak kapal harus berputar melalui rute lain seperti Cape of Good Hope. Namun perubahan rute ini bakal mendorong pembengkakan biaya operasional logistik,” kata Widyaswendra saat ditemui di sela kegiatan buka bersama di Gedung Pelindo Place, Selasa (3/3).
Menurutnya, pengalihan jalur tersebut membuat waktu tempuh pelayaran menjadi lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, serta biaya asuransi melonjak akibat tingginya risiko keamanan. Efek berantai dari kondisi ini adalah kenaikan tarif angkut kontainer dan biaya distribusi barang secara global.
Bagi industri logistik nasional, dampak konflik di Timur Tengah diperkirakan belum akan terasa secara langsung dalam waktu dekat. Widyaswendra memperkirakan efeknya baru dirasakan dalam 2 hingga 3 minggu ke depan apabila eskalasi konflik tidak segera mereda.
“Jika situasi tidak segera membaik, pelaku usaha harus bersiap menghadapi kenaikan biaya logistik yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga barang di dalam negeri,” ujarnya.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak mentah dan berbagai komoditas penting dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menimbulkan tekanan besar pada rantai pasok global, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau konflik berkepanjangan, biaya logistik global bisa mengalami kenaikan signifikan secara kumulatif, kemungkinan lebih dari 30 persen total biaya dibandingkan periode sebelum konflik, tergantung durasi, rute pengalihan dan harga energi,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Trismawan mengatakan banyak faktor yang mempengaruhi potensi kenaikan biaya logistik global tersebut.
Pertama, harga minyak dunia sudah meningkat signifikan sekitar 8 hingga 13 persen setelah konflik baru-baru ini.
Lebih lanjut, eskalasi konflik telah membuat banyak jalur pelayaran utama termasuk Selat Hormuz sangat riskan atau ditutup, sehingga banyak kapal harus berputar melalui rute lain seperti Cape of Good Hope.
Langkah ini menambah waktu transit kurang lebih 15–20 hari dan otomatis membuat biaya operasional kapal ikut naik.
“Selain itu, biaya asuransi kargo dan war risk surcharge meningkat tajam, dengan beberapa analis memperkirakan freight,” ujar Trismawan.
Sebelumnya, media Iran pada Sabtu (28/2) melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Adapun Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melintasi koridor tersebut.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu.
Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa yang dapat menghindari Selat Hormuz, namun kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil dari volume minyak mentah yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut.
Editor : Eka Sapto
URL : https://jatimpedia.id/news-15134-penutupan-selat-hormuz-bakal-picu-kenaikan-biaya-logistik-global