JATIMPEDIA, Jakarta - PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat realisasi penyaluran pupuk subsidi di pekan keempat bulan September di bawah target.
Senior Vice President (SVP) Strategi Penjualan dan Pelayanan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Deni Dwiguna Sulaeman, mengungkapkan realisasi penebusan pupuk subsidi baru mencapai 5,5 juta ton atau 58�ri total alokasi 9,55 juta ton pada tahun 2025.
"Nah per hari ini untuk 2025 perlu kami sampaikan juga realisasi per 24 September 2025 penyeluruhan pupuk subsidi di angka 5,5 juta ton dari alokasi 9,55 atau 58%," ujar Deni dalam diskusi di Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Apabila mengikuti pola rata-rata tiap tahun, penyaluran pupuk bersubsidi seharusnya sudah mencapai sekitar 75% hingga akhir September. Namun, realisasi di lapangan masih tertahan di angka 58%. Deni menduga hal ini dikarenakan intensitas tanam ketiga (IP3) baru akan berlangsung pada Oktober.
Dengan sisa waktu sekitar 90 hari, PIHC memperkirakan tambahan penyaluran hanya berkisar 2,6-2,7 juta ton, sehingga pada akhir 2025 realisasi diprediksi di angka 8,1-8,2 juta ton. Angka tersebut tetap lebih rendah dari alokasi awal.
"Kalau melihat historis penyaluran, target rata-rata kami 90%. Tapi sampai sekarang prognosa kita sampai akhir tahun bahkan mungkin di angka 90% kurang, ini menjadi evaluasi kami," kata Deni.
PIHC menyoroti rendahnya serapan pupuk bersubsidi salah satunya karena masih banyak petani yang belum menebus haknya. Dari total 14,9 juta petani terdaftar di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sebanyak 43�lum melakukan penebusan hingga Agustus 2025.
"Jadi kalau tadi 14,9 juta, yang belum menebus itu kurang lebih 6 juta, jadi yang sudah menebus itu ada 8,4 juta," papar Deni.
Dikatakannya, alasan petani tidak menebus beragam, mulai dari faktor meninggal dunia hingga menunda karena belum memasuki musim tanam. "Tapi itu setiap bulan ketika kami cek alasannya seperti itu. Nah apakah validitas data itu memang menjadi penting untuk kami," ucap dia.
Meski realisasi penyaluran masih rendah, PIHC memastikan stok pupuk nasional dalam kondisi aman. Per 24 September 2025, stok urea mencapai 919 ribu ton, NPK 655 ribu ton, pupuk organik 50 ribu ton, dan kakao 13 ribu ton.
Rinciannya, stok urea terdiri atas 501.731 ton di gudang penyangga dan 31.154 ton di pabrik (276% di atas safety stock). Untuk NPK, terdapat 600.720 ton di gudang penyangga dan 95.833 ton di pabrik (286 persen safety stock).
Sementara itu, stok organik sebanyak 50.803 ton dan pupuk kakao 13.248 ton juga berada jauh di atas batas aman. "Posisi saat ini secara angka pemenuhan buffer stok itu kita sudah memenuhi, jadi tidak ada isu kalau konteks ketersediaan produk," terang Deni. (raf)
Editor : Ferdian