Hingga September Angkutan Non-Batu Bara KAI Capai 9,15 Juta Ton

Reporter : Ferdian
Kereta KAI angkutan batu bara

JATIMPEDIA, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan non-batu bara sebanyak 9.148.571 ton per September 2026. Realisasi volume tersebut meningkat 2,6 persen dibandingkan capaian periode sama tahun 2025 sejumlah 8.912.566 ton.

Manajemen KAI merilis data kinerja angkutan barang tersebut di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Layanan logistik tersebut mencakup komoditas industri, petikemas, bahan bakar minyak, hasil perkebunan, hingga barang ritel.

Baca juga: Hingga September KAI Group Layani 394,4 Juta Penumpang

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan pengelolaan angkutan wajib memperhatikan kesiapan jalur operasional. Kawasan industri memerlukan pasokan bahan baku sedangkan pusat distribusi membutuhkan kelancaran arus pengiriman berbagai barang.

“Setiap wilayah memiliki kegiatan ekonomi dan kebutuhan distribusi yang berbeda. Ada kawasan yang membutuhkan pengiriman bahan industri, ada pula jalur yang melayani pergerakan hasil perkebunan dan barang konsumsi. Jaringan kereta api membantu menghubungkan kebutuhan tersebut melalui layanan angkutan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing koridor,” ujar Anne.

Wilayah operasi KAI di Jawa mencatat volume 6.684.683 ton sedangkan Sumatra membukukan sebanyak 2.463.889 ton. Sekitar 73 persen muatan non-batu bara tersebut berasal dari Jawa dan 27 persen dari Sumatra.

Layanan di Jawa mencakup sembilan Daerah Operasi (Daop) dengan perolehan muatan logistik terbesar di Jakarta. Daop 1 Jakarta membukukan 2.567.115 ton disusul Daop 8 Surabaya yang mengangkut sebanyak 2.260.233 ton.

Baca juga: KAI Daop 7 MoU Hukum dengan Kejari Kabupaten Kediri

Daop 5 Purwokerto mengangkut 1.006.418 ton sementara wilayah operasi lain melayani pengiriman sesuai karakter masing-masing. Pengelolaan angkutan barang non-batu bara di Sumatra terbagi ke dalam empat wilayah Divisi Regional (Divre).

Divre II Sumatera Barat mencatat 893.635 ton muatan diikuti Divre III Palembang sebanyak 646.893 ton. Divre I Sumatera Utara mengangkut 626.185 ton barang serta Divre IV Tanjungkarang membukukan 297.175 ton.

Anne menyatakan bahwa kesiapan sarana dan kapasitas lintas menjadi aspek krusial dalam perencanaan angkutan barang. Fasilitas pemuatan dan pembongkaran dipersiapkan agar muatan barang dapat bergerak lancar sesuai kebutuhan para pelanggan.

Baca juga: KAI Angkut 50,7 Juta Ton Barang hingga September 2026, Petikemas Naik 19,57 Persen

“Pengembangan angkutan barang perlu dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan dan potensi setiap wilayah. Ketika kapasitas kereta, kesiapan prasarana, dan pola pengiriman dapat direncanakan dengan baik, transportasi berbasis rel memiliki ruang untuk melayani lebih banyak kebutuhan distribusi,” kata Anne.

Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya mengevaluasi peluang pengembangan angkutan berbasis potensi wilayah. Pengembangan layanan rel diarahkan menjadi pilihan yang semakin relevan bagi pelaku usaha distribusi barang antardaerah.

“Setiap wilayah memiliki peran dalam pergerakan logistik nasional. KAI ingin memastikan jaringan dan layanan angkutan barang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan pelanggan, dengan perencanaan yang terukur dan operasional yang andal,” kata Wisnu.

Editor : Rizky

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru