JATIMPEDIA, Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia masih belum menunjukkan geliat signifikan. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat sebesar 49,8 pada Agustus 2026, turun dari 50,2 pada Juli.
Angka di bawah 50 ini menandakan aktivitas sektor manufaktur masih mengendur .
Baca juga: OJK Minta Bank Blokir 38 Ribu Rekening Terindikasi Judi Online
Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa kondisi lesu manufaktur menjadi perhatian karena sektor ini berkaitan erat dengan aktivitas produksi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif di level 5,29 persen, ditopang oleh investasi dan konsumsi masyarakat .
Laporan S&P Global menunjukkan penurunan produksi manufaktur kembali terjadi pada Agustus, meskipun relatif ringan. Penurunan ini dipengaruhi oleh persaingan yang semakin ketat, kondisi permintaan yang masih lemah, serta kenaikan harga barang .
Sejalan dengan turunnya produksi, sejumlah perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja. Ketenagakerjaan kembali tergerus akibat kombinasi pengunduran diri dan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai respons terhadap kebutuhan produksi yang lebih rendah .
Baca juga: OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Fokus Perkuat Ketahanan dan Digitalisasi
Di balik kondisi lesu, terdapat beberapa sinyal positif. Permintaan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, meskipun indeksnya hanya sedikit di atas level netral 50,0 .
Selain itu, kepercayaan bisnis terus membaik dan mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan. Pelaku industri berharap kondisi permintaan yang lebih kuat dan pasar yang stabil dapat mendukung peningkatan produksi dalam 12 bulan ke depan .
Baca juga: Kemenperin Pacu Ekspor Industri Makanan dan Minuman, Target US$83,08 Miliar pada 2029
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan bahwa pergerakan PMI pada Agustus dipengaruhi penyesuaian produksi dan efisiensi tenaga kerja akibat dinamika persaingan pasar lokal yang ketat. "Kita juga melihat adanya peningkatan tipis pada permintaan baru dan kepercayaan bisnis yang terus membaik," ujarnya .
Editor : Rizky