Awalnya, lahan tidak produktif tersebut sudah 10 tahun tidak digarap petani karena termasuk ke dalam daerah banjir. Lahan itu kemudian ditawarkan ke WPI agar memberikan pendampingan ke petani. Saronto menjelaskan, menghidupkan lahan tidur tidak mudah. Pada MT satu, pengelolaan lahan dapat dikatakan gagal karena masih banyak gulma yang tumbuh dan menelan biaya cukup besar. Saat panen, hasilnya hanya 1,6 ton per ha dari target 6 ton per ha.
Belajar dari MT satu, perusahaan mulai menganalisa kembali dan melakukan perbaikan pada pengelolaan lahan. Pada MT dua, selain biaya dapat ditekan, hasil panen melonjak hingga 6 ton per ha.
Saronto menambahkan, pengelolaan lahan tidur bertujuan untuk mendukung peningkatan produksi pangan melalui lahan yang sudah ada. WPI telah berencana kembali melakukan pendampingan lahan tidak produktif lainnya. Salah satunya ada di Mojokerto seluas 20 ha. “Kendalanya adalah biayanya besar dan potensi gagal pada MT satu, itu yang menyebabkan lahan tidur banyak yang dibiarkan," tutur Saronto dalam keterangan yang dikutip Jumat (10/05/2024).
Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Abriyani Susilowati menilai, kemitraan antara pemerintah, perusahaan, dan petani seperti gayung bersambut karena adanya bantuan bagi kebutuhan petani. Saat ini, kian banyak petani berusia lanjut, sehingga tenaganya berkurang. Sementara itu, kebutuhan pangan terus meningkat yang dibarengi berkurangnya luas lahan.
“Kami menyambut baik kerja sama ini, dengan harapan bisa membantu petani dan mendapatkan hasil lebih baik,” jelas Abriyani. Pemda Sidoarjo berharap, peningkatan produksi pangan di Sidoarjo dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sendiri, mengingat selama ini wilayah tersebut belum dikenal sebagai lumbung pangan. Kenaikan harga beras juga akan berdampak terhadap inflasi.
Sedangkan Ketua Kelompok Tani Suko Tani Imam Baihaqi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi karena mendapat pendampingan dari perusahaan dan Dinas Pertanian daerah dalam menghidupkan lahan tidak produktif. Petani juga tidak perlu keluar modal karena sarana produksi telah disediakan perusahaan. Mereka juga berkomitmen untuk meneruskan metode yang diajarkan dalam pendampingan tersebut.
"Zaman sekarang petani harus maju agar tidak dipandang sebelah mata," ujar Baihaqi. Petani juga dapat menjual hasil panennya ke WPI, sehingga tidak perlu lagi tergantung tengkulak. Mereka juga akan mengajak petani lainnya untuk bergabung dalam program tersebut. (ris)
Editor :
Taufiq
URL : https://jatimpedia.id/news-3345-wilmar-sukses-dampingi-petani-padi-sidoarjo-panen-8-ton-gabah-perhektar